Status Pacar ?

Relationship

Kali ini, status pacar akan saya kritisi. Ini sebuah opini pribadi. Tak perlu melibatkan hati ketika membaca tulisan ini karna setiap orang punya versinya sendiri. Cukuplah logika yang berbicara karna apabila melibatkan rasa maka tidak akan ada akhirnya. Bisa diterima ? Jika tidak, maka tak usah dibaca.

Seperti yang pernah saya katakan dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Bersama bahwasannya status pacar tak memiliki kekuatan hukum di dalamnya. Baik dalam ranah agama ataupun negara. Status ini hanya berlaku bagi kalangan tertentu saja.

Hukum agama dan negara merupakan kesepakatan bersama diantara sekian banyak manusia yang bahkan ada sejak dulu kala. Sedangkan status pacar hanya diakui oleh berdua saja yaitu sepasang manusia yang katanya sedang jatuh cinta.

Ketika seorang wanita telah dinikahi maka pria lain yang bukan suaminya akan segan mendekati. Berbeda dengan ketika seorang wanita yang dipacari maka pria lain lebih berani mendekatinya karna tidak ada kekuatan hukum yang melindunginya. Inilah perbedaanya.

Status pacar tak berarti apa-apa di hadapan agama ataupun negara. Oleh karenanya seorang pria tak memiliki dasar hukum ketika melarang pihak wanita untuk tidak mencintai pria lainnya, begitupun sebaliknya. Pihak wanita berhak sekali memilih pria lainnya karna tidak ada hukum yang melarangnya. Jika pihak pria ingin melarangnya maka syarat utama adalah harus menikahinya hingga ada kekuatan hukum yang mendukungnya.

Sang pacar tak berhak melarang orang yang dia suka karna tak ada dasar hukumnya. Hanya keluarga dan sanak saudaranya lah yang berhak atas dirinya. Sang pacar tidak termasuk kedalamnya. Inilah aturan yang semestinya.

Jadi, selama belum ada ikatan resmi diantara sepasang manusia maka baik pria ataupun wanita berhak untuk dipilih dan memilih lawan jenisnya. Disaat seperti ini sepertinya status single [ belum menikah]  lebih pantas untuk mewakilinya. Dan ini berlaku untuk saya.

7 Komentar

Filed under Catatan

7 responses to “Status Pacar ?

  1. Yang terjadi, pacar adalah memiliki..Sulit juga akhirnya mencari bentuk memiliki itu seperti apa hingga jatuhlah korban : moralitas, kekerasan, pengekangan..Lalu apa bedanya pernikahan dengan pacaran ?

    nb : sedang ikut bergumam..hehe, salam..

    • Pernikahan dengan pacaran sangat berbeda sekali. Pacaran tidak memiliki kekuatan hukum di dalamnya, baik hukum agama ataupun negara. Namun pernikahan memiliki keduanya. Intinya disitu. Salam.

  2. Namun yang terjadi sekarang..eng ing eng, orang pacaran sudah seperti suami – istri..seperti tidak ada perbedaan..

  3. Oleh karena itu, menikahlah agar tidak termasuk ke dalam golongan yang baru saja Anda kritisi. Menikah, secara agama membuat hubungan “tadi” yang awalnya haram menjadi halal. Dan secara negara membuat hubungan menjadi sah karna tercantum dalam catatan sipil dan itu diakui oleh semua warga negara Indonesia bahkan dunia. *Saran

  4. hahaha, setuju sama artikel ini. pacaran itu hanya istilah yang seolah-olah seperti suatu aturan baru, atau seperti sesuatu yang didalamnya terdapat hukum-hukum yang mngikat walau sebenarnya itu hanya mengada-ada. bukan karena saya menentang pacaran atau semacamnya, tapi secara logika memang seperti itu. buat orang yang melakukan pacaran, sadarlah bahwa itu tak benar. sepertinya, agama manapun pun tak pernah mengatur tentang pacaran. apabila kalian saling mencintai, maka menikahlah. kalau belum siap, persiapkan dan kemudian menikahlah. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s