Maling

Thief

Maling tentu saja bersalah. Tetapi sifat kemalingan seseorang tidak identik dengan keseluruhan dirinya. Unsur malingnya sajalah yang salah. Tetapi hukum tidak bisa mengadili unsur malingnya itu belaka. Pengadilan hukum menyangkut diri seseorang secara utuh. Maling itu pun, sebagai seseorang mempertanggungjawabkan kemalingannya sebagai seseorang yang utuh. Tetapi, siapakah gerangan seseorang yang utuh ?

Seorang anak yang hanyut di arus deras sungai, terdampar ia di sebuah tepian dalam keadaan lapar; diambilnya buah mangga yang terletak di atas tebing sungai, dimakannya. Ternyata mangga itu milik seseorang. Apakah gerangan pengertian dan makna keutuhan sang anak ini ? Ia utuh dengan sendirinya. Tapi ia utuh juga dengan arus sungai yang menghanyutkannya. Utuh juga dengan rasa lapar yang tak dikehendakinya sendiri. Utuh juga dengan mangga yang menitikan air liurnya.

Alangkah lemahnya hukum. Kita hanya mampu mengadili dirinya. Kebudayaan kita tidak mampu menguasai seluruh keberadaannya. Kita hidup dalam rumah-rumah, kubu-kubu, karena itu kita bikin tembok dan kita tutup pintu-pintu. Tak bisa tidak. Banjir datang, menggenang di atas lantai; kita kutuk sang air.

Sumber: Emha Ainun Nadjib

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s