Kemuliaan si Penjual Kacang

Kacang Rebus

Markesot berkata,”Kalian lihat itu di jalan ada penjual kacang rebus. Berbicaralah kalian tentang dia …”

Suasana hening. Tak seorang pun membuka mulutnya. Mungkin karena belum mengerti persis apa yang dimaksud oleh Markesot yang kali ini memang berlaku agak serius.

“Kenapa tak ada yang bicara ?” ulangnya.
Suasana tetap diam.

“Setiap saat kalian adalah anak-anak muda yang selalu riuh rendah berbicara, bahkan tentang hal-hal yang besar: politik, pemerintahan, birokrasi, pancasila …”
Tetap belum ada suara.

Apa yang dilakukan oleh penjual kacang itu ?”
“Menjual kacang …” jawab seorang pemuda.

“Ya. Apa itu ?”
“Mencari nafkah …”
“Bagus. Kapan saja dia mencari nafkah ?”
“Hampir sepanjang malam ?”

“Ke mana saja dia sepanjang malam ?”
“Keliling kampung-kampung …”
“Untuk siapa dia mencari nadkah ?”
“Untuk anak-istrinya …”

“Untuk anak-istrinya …” kemudian kata-kata Markesot tumpah seperti air terjun,”Mencari nafkah untuk anak-istri, berjalan menelusuri gang-gang kampung demi kampung. Siapakah di antara kalian yang mau melakukan hal seperti itu ?”
Tak ada suara.

“Kalian semua ingin jadi orang besar. Ingin jadi pejabat atau setidaknya pegawai. kalian semua ingin mencari uang dengan cara yang segampang-gampangnya untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya. Kalian dengan sengaja mencari tempat yang kalian tahu akan menjebak kalian untuk melakukan korupsi-korupsi …

“Kalian pandanglah wajah penjual kacang itu. Kalau dia maling, tak akan mau dia repot-repot semalaman keliling kampung. Dia berjualan kacang karena ingin makan dan memakani mulut anak-istrinya dengan keringatnya sendiri. Kalian pikirkanlah, apakah yang kalian makan dan minum selama ini adalah hasil yang sah dari orangtua kalian.

“Kalian renungkanlah siapa manusia yang lebih mulia dibanding dengan orang yang hanya bersedia memakan hasil keringatnya sendiri, dan untuk itu dia bersedia berpayah-payah berjualan sepanjang malam meskipun hanya akan memperoleh hasil tiga atau empat ribu rupiah ?

“Penjual kacang itu pergi berjualan justru ketika malam tiba. Justru ketika orang berangkat beristirahat dan berangkat tidur. Dia berjalan, dengan kaki tertatih-tatih, karena memiliki tawakal dan taqwa yang sangat tinggi terhadap kebaikan Allah. Dia sangat percaya Allah Maha-adil, sehingga dipilihnya pekerjaan yang setiap dari kalian membayangkan pun tak mau. Dia tak memilih menjadi maling, perampok, atau pencopet. Dia adalah manusia yang mulia di hadapan Allah.

“Pernahkah kalian bercita-cita memperoleh kemuliaan seperti itu ? Yang lebih kalian cari bukanlah kebaikan, melainkan kekayaan. Yang lebih kalian buru bukanlah keluhuran, melainkan keenakan, kenyamanan; dan pada posisi seperti itu, kalian selalu merasa lebih tinggi derajat kalian dibanding dengan orang-orang kecil yang berjualan bakso, martabak, sate …

“Lihatlah penjual kacang itu: Kenapa dia tidak sakit reumatik ? Berapa kali dia masuk angin oleh angin malam ? Kenapa dia jauh lebih sehat dibanding dengan famili-famili kalian yang kaya-raya, yang macam-macam penyakitnya dan berplastik-plastik obatnya.

“Anak-anakku, renungkan. Coba mulai hitunglah kehidupan di sekitarmu. Hitung pulalah dirimu sendiri. Temukanlah kemuliaan di sekitarmu. Belajarlah membedakan mana kemuliaan dan mana kehinaan. Amatilah mana orang yang luhur, mana orang yang hina. Mana orang yang tinggi derajatnya dan mana yang rendah. Pakailah mata Allah sebagai ukuran …”

Markesot Bertutur
Emha Ainun Nadjib

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s