Pertamina Gelontorkan Rp 70 Triliun untuk Akuisisi PGN

PGN

GEO ENERGI
Wednesday, 22 Jan 2014 12:21:42

Jakarta – Wacana untuk menggabungkan kedua perusahaan besar anak negeri yaitu PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, dengan anak usaha PT Pertamina (Persero) yaitu Pertamina Gas (Pertagas) membuat hampir semua media nasional kaget, ide gila ini memang punya alasan-alasan tersendiri. Seperti sang Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang paling keukeuh menginginkan keduanya bergabung (akuisisi atau merger).

Dahlan Iskan menginginkan akuisisi itu dilakukan secara bertahap, walaupun kedua perusahaan BUMN itu sama-sama baik dan memiliki integritas tinggi dalam memajukan industri gas nasional, namun saat terjadi persaingan usaha antara keduanya maka akan berimplikasi terhadap sirkulasi dan regulasi distribusi gas kedepan.

Ada dua sistem akuisisi versi Dahlan, antara lain dengan yaitu PGN membeli Pertagas dan opsi kedua Pertamina langsung membeli PGN.

“Ide ini untuk kejayaan bangsa dan untuk pelayanan rakyat agar lebih baik kedepannya, caranya bisa satu tahap dan bisa dua tahap, tergantung hasil kajian nanti dan untuk sementara kita masih membahasnya dulu,” tuturnya saat melakukan jumpa pers beberapa waktu lalu di kantornya pada Kamis, (16/1/2014) Jakarta Pusat.

Namun, sejumlah kalangan menyebut isu ini sengaja dimainkan Dahlan Iskan (DI) untuk menarik hati para awak media dengan mengorbankan dua perusahaan kelas dunia itu, publik bertanya-tanya strategi apalagi yang ingin dimainkan DI, apakah dengan membuka tol dan menaiki rel kerata api kelas ekonomi belum cukup baginya?

Namun adapula yang berspekulasi bahwa, akuisisi atau merger sesungguhnya merupakan upaya pencaplokan Pertamina kepada PGN, bahkan Peneliti dari Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi ikut berpendapat upaya Pertamina itu hanya sebagai penyelesaian konflik dengan PT PGN untuk 11 pipa yang berada di Jawa Barat dan Jawa Timur karena tidak efektif.

Karena biasanya, akuisisi dilakukan oleh perusahaan yang lebih besar terhadap perusahaan yang lebih kecil, namun kasus yang terjadi pada PGN dan Pertagas justru sebaliknya, mulai dari sisi pengalaman, kepemilikan aset hingga transparansi publlik. Dan yang paling menarik adalah transparansi, karena hingga detik ini Pertamina masih bungkam dengan data-data ke publik mengenai kinerja anak usahanya seperti Petral yang berbasis di Singapura.

“Hal itu akan menjadi anomali, jika Pertagas yang asetnya lebih kecil mencaplok PGN yang memiliki aset jauh lebih besar. Apalagi kiprah PGN di perniagaan gas bumi jauh lebih lama ketimbang Pertagas,” tutur Fahmi beberapa waktu lalu di Jakarta, Senin (25/11/2013).

Walaupun Dahlan Iskan atau direksi Pertamina tetap ngotot, maka perusahaan plat merah itu harus menyediakan dana dalam jumlah besar untuk mengganti saham-saham PGN yang dimiliki publik, ini mirip seperti kasus yang terjadi pada PT Kalimantan Prima Coal (PT KPC) yang diakuisisi oleh Bumi Resources. Lalu bagaimana membagi pengeluaran dananya, sementara Pertamina juga membutuhkan pengembangan disejumlah bisnis hulu dan hilir, belum lagi keinginannya untuk menguasai Blok Mahakam, dan blok-blok migas yang habis masa kontraknya dalam beberapa tahun kedepan.

Jika dilihat dari data Bursa Efek Indonesia (BEI) dimana saat ini kapitalisasi saham PGN di pasar bursa mencapai Rp 115 triliun. Pemerintah memiliki 56,97 persen saham dan 43,03 persen milik publik. Artinya, jika Pertamina akan membeli saham pemerintah yang ada di PGN, maka Pertamina wajib menyiapkan dana minimal Rp 70 triliun atau setara dengan 56,97 persen saham, ini sama dengan menguras kocek laba Pertamina selama 3 tahun, karena tahun lalu perusahaan itu mencatatkan peroleh laba sekitar Rp 25 Triliun.

“Belum lagi ditambah dengan kewajiban untuk melaksanakan tender offer (membeli saham di investor publik) saham PGN sesuai dengan peraturan otoritas pasar modal, sebaiknya Pertamina berpikir lagi jika mereka menginginkan akuisisi itu, karena dengan dana segitu lebih efektif dan produktif jika digunakan untuk membiayai usaha pengeboran dan pembangunan kilang minyak, sehingga tidak perlu membebani APBN,” tutupnya.

Namun, jika DI atau Direksi Pertamina berpikir soal kepentingan umat Indonesia seperti dengan akuisisi maka tidak ada lagi persaingan bisnis, menuju indonesia modern, karena elpiji sudah tidak bisa diandalkan lagi. Namun bukankah persaingan bisnis itu justru menguntungkan publik, menguntungkan pasar dan masyarakat karena harga akan lebih selektif, kwalitas akan terjamin hingga tidak terjadi monopoli pasar yang justru memicu ekonomi modern.

Mengutip dari pernyataan Mantan Kepala SKK Migas sekaligus Mantan Wakil Menteri ESDM, Rudi Rubiandhini beberapa waktu lalu bahwa persaingan dalam sektor industri minyak dan gas akan sangat-sangat menguntungkan masyarakat Indonesia, karena masing-masing pelaku usaha akan menciptakan terobosan, inovasi bahkan akan meng-kreatifkan diri agar produk usaha hilir yang dipasaran diminati oleh publik.

“Tidak ada buruknya dengan persaingan bisnis, dalam konteks positif karena ini justru memicu pelaku usaha untuk mengambangan usahanya dengan sejumlah terobosan yang saya pikir justru menguntungkan rakyat kita,” tutur Rudi beberapa bulan sebelum dirinya menjadi tersangka dan tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Namun, sebesar apapun niat dan Menteri ESDM Dahlan Iskan dan Direksi Pertamina untuk mengakuisisi PGN, maka tetap kembali pada siapa pemegang saham minoritas, yaitu Jamsostek, Dana Pensiun Pertamina dan Publik. Apakah mereka mau untuk diakuisisi atau tidak ?

Juru bicara PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Ridha Ababil justru mengatakan aturan main pemilik saham, bahwa saham minoritas menjadi penentu kebijakan apakah suatu perusahaan akan melakukan akuisisi atau merger dengan perusahaan lainnya termasuk dengan PGN. Artinya, pemilik saham minoritas PGN belum mengatakan yes atau no…!! Sementara justru dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) maka dipastikan pemilik saham mayoritas tidak mempunyai hak suara untuk menentukan keputusan untuk akuisisi.

“Disini pemilik saham mayoritas tidak memiliki hak suara, namun justru pemilik saham minoritas yang memutuskan, kalau dari RUPS dan dilakukan rapat antar pemegang saham minoritas dan memutuskan tidak mau merger, maka merger dengan Pertagas tidak akan dilakukan,” tuturnya kepada beritaheadline.com beberapa waktu lalu pada senin siang, (20/01/2014) di Jakarta.

Namun sebaliknya jika pemagang saham minoritas memutuskan melakukan merger atau akuisisi dengan Pertagas, maka akan ada sejumlah persyaratan lainnya yang dibutuhkan antara lain meminta persetujuan dari Menteri ESDM Jero Wacik, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Kemenko Hatta Radjasa, lalu dari legislatif juga meminta persetujuan dari DPR RI.

“Jadi banyak proses yang harus dilewati, karena ini masih wacana dan masih jauh dari kata sepakat, kalau minoritas setuju untuk dimerger paling tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk disetujui oleh pihak-pihak terkait,” tuturnya.

Ridha juga menjelaskan, mekanisme akuisisi dua perusahaan juga akan menggunakan pihak ketiga atau lembaga independen yang ditunjuk untuk melakukan kajian dan pembahasan mengenai manfaat hingga untung rugi dilakukan merger dan penggunaan tenaga jasa pihak ketiga tersebut juga harus disetujui kedua pihak.

“Setelah pengumuman RUPS pada bulan Mei atau Juli dan menyatakan mau mengakuisisi maka ada lagi proses kajian yang dilakukan pihak ketiga, namun pada dasarnya kita adalah operator saja dan keputusan tetap menjadi hak pemegang saham,” tuturnya.

Namun ada isu yang berkembang disejumlah media sosial dan pembicaraan antar sesama wartawan, bahwa Dahlan Iskan sengaja melempar bola panas agar soal merger atau akuisisi tersebut agar harga saham PT PGN (Persero) Tbk, melemah dan turun drastis, sehingga untuk proses pengambil alihan saham publik dapat dilakukan lebih mudah. Namun, ini hanya sebuah spekulasi yang tanpa dasar, sehingga kebenarannya hanya bisa dibuktikan setelah dilakukan. Namun kebijakan politik apapun itu, sebaiknya jangan korbankan masyarakat, rakyat kecil.

Tinggalkan komentar

Filed under Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s