2014 Mafia Migas Semakin Ganas

meship com

Sektor energi khususnya migas masih menjadi tumpuan utama bagi perekonomian nasional. Setiap tahun sektor migas menyumbang 30 persen bagi APBN. Namun, besarnya penerimaan negara tersebut juga sekaligus menjadi incaran bebagai pihak. Itulah alasannya kenapa pemerintah diharuskan berkuasa atas sektor migas.

Sayang, pada prakteknya yang terjadi justru sebaliknya. Kontrol dan pengawasan pemerintah masih sangat lemah. Akibatnya, sebagian besar penerimaan dari migas hanya dinikmati segelintir orang. Pertanyaannya, kenapa kondisi itu bisa terjadi dan seakan ada pembiaran dari pemerintah ?

Bila disimpulkan dari kondisinya, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM) pemerintah dan lembaga yang bertugas mengelola migas memang tidak mampu mengelola sektor migas secara profesional. Kedua, pemerintah dan lembaga yang mengelola migas hanya berperan sebagai boneka yang dikendalikan mafia migas, baik yang ada di pemerintah berkuasa maupun orang yang mempunyai kekuasaan untuk melakukannya.

Untuk kemungkinan pertama rasanya sulit diterima akal bila SDM Indonesia di sektor migas kurang mumpuni. Buktinya, banyak putera-puteri bangsa yang sukses bekerja di berbagai perusahaan migas kelas dunia. Dengan demikian, menjadi sangat masuk bila yang terjadi saat ini adalah akibat dari kemungkinan kedua. Yakni, pemerintah dan lembaga pengelola sektor migas hanyalah boneka yang dikendalikan mafia migas.

Siapa mafia migas ini? Mafia migas merupakan orang atau kelompok tertentu yang mempunyai akses dan kekuasaan untuk mengendalikan dan mempengaruhi kegiatan produksi. Kelompok ini bahkan bisa mengatur transaksi hasil produksi migas agar menguntungkan kepentingan mereka.

Lihat saja, selama tahun 2013, banyak sekali perubahan maupun kejadian penting yang terjadi di sektor migas dan sangat berpengaruh terhadap kontrol dan pengawasan produksi di sektor migas itu sendiri. Salah satunya, isu revisi UU Migas Nomor 22 Tahun 2001. Atas putusan Mahkamah Konstitusi, UU tersebut dinilai tidak sejalan dengan UUD 1945. Akibatnya BP migas harus dibubarkan, yang kemudian bersalin rupa menjadi SKK Migas. Alih-alih pengelolaan migas menjadi baik, SKK Migas ternyata belum mampu menjawab persoalan. Ketidakpastian pengawasan sektor migas masih lemah yang berujung pada melorotnya produksi minyak dari tahun ke tahun. Di samping itu, tangan-tangan yang ingin menguasai SKK Migas semakin banyak. SKK Migas jadi rebutan partai politik dan juga mafia migas.

Menurunnya lifting minyak juga diakui SKK Migas. Akhir tahun ini, lifting hanya mencapai 828.000 barel per hari. Sedangkan kebutuhan minyak di dalam negeri sudah mencapai 1,2 juta barel per hari. Artinya, kebijakan impor minyak mentah maupun BBM terpaksa harus dilakukan. SKK Migas mendeteksi penurunan lifting semata-mata karena adanya gangguan teknis dan minimnya temuan baru. SKK Migas enggan mengakui karena adanya campur tangan para mafia migas.

Salah satu indikator terang benderang untuk mengetahui adanya peran mafia di hulu migas adalah tertangkapnya Rudi Rubiandini, seorang dosen teladan, lemah lembut, dan bersahaja. Siapa sangka kesahajaan Rudi menyimpan misteri juga kejahatan. Di persidangan Rudi menyeret semua pihak yang terlibat, yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Kepercayaan publik sirna terhadap pejabat SKK Migas. Dalam ketidakpercayaan itu, nyatanya tak menyurutkan niat para mafia untuk menguasainya.

Begitulah SKK Migas, Prahara belum akan berkahir. Semua pihak ingin menguasai sebuah badan yang mengelola keuangan sepertiga APBN itu. Hati-hati di tahun 2014, mafia migas makin ganas.

Rubiyanto
Pemimpin Umum Geo Energi

Foto: meship.com

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Minyak & Gas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s