Mobil Murah dan Gagalnya Program Konversi

Speed

Sabrun Jamil
Wakil Pemimpin Umum Geo Energi

Pemerintah kembali blunder. Kementrian Perindustrian baru saja memutuskan kebijakan kendaraan pribadi berbiaya murah dan ramah lingkungan. Bahasa kerennya LCGC, Low Cost Green Car.

Namun lahirnya LCGC justru bertentanngan dengan program Kementrian Energi dan Sumber Daya Alam Mineral yang tengah getol membatasi bahan bakar bersubsidi. Buntutnya, kebijakan ini dikecam publik karena hanya akan menambah kemacetan dan justru meningkatkan konsumen Bahan Bakar Minyak yang sebagian masih impor.

Kecaman publik tak membuat Kementrian Perindustrian sadar. Mereka mengklaim bahwa kebijakan itu tidak berdampak terlalu besar pada kemacetan. Dengan enteng, Kementrian Perindustrian mengatakan kemacetan sudah terjadi sebelum adanya mobil murah.

Tahun 2014 mobil murah akan beredar di jalanan sebanyak 200.000 unit. Jumlah ini sama dengan 3 persen dari populasi secara nasional. Produksi LCGC akan terus bertambah hingga 15 persen. Belum lagi produksi mobil konvensional yang meningkat setiap tahun. Maka, bisa dibayangkan betapa padatnya republik ini oleh kendaraan bermotor.

Kebijakan ini sesungguhnya salah arah. Pada saat masyarakat membutuhkan transportasi massal untuk mengurangi kepadatan dan mengurangi konsumsi BBM bersubsidi, pemerintah justru memperbanyak mobil pribadi.

Kesalahan arah ini kemudian coba dibelokan dengan mengatakan bahwa mobil murah ini merupakan kebijakan angkutan pedesaan. Padahal, saat diluncurkan mobil murah oleh beberapa agen tunggal pemilik merk (ATPM) bulan September 2013 lalu, pemerintah tidak pernah memunculkan wacana angkutan pedesaan.

Ini adalah bukti nyata bahwa pemerintah selama ini miskin koordinasi. Mengapa bukan aturan skema biaya transportasi murah yang dijalankan untuk mengurangi kepemilikan mobil pribadi yang menyebabkan kemacetan. Mengapa program konversi BBM ke BBG tidak dijalankan secara serius. Padahal sudah digagas pertama kali sejak 1995 program konversi BBM ke BBG sektor transportasi bak perenang kehabisan nafas. Bertahun-tahun program konversi memang kerap hilang bak ditelan bumi. Pemerintah mulai serius kembali membicarakan program konversi BBG pada 2005, atau 10 tahun sejak digagas pertama kali, itupun belum menyentuh ke substansi.

Pemerintah kemudian menyusun strategi memuluskan program konversi. Segudang rencana disusun, dana pun disiapkan. Tak kurang dari Rp 1,8 triliun untuk mendorong pembangunan infrastruktur gas, seperti Stasiun Pengisian bahan Bakar Gas (SPBG). Dana tersebut juga untuk pengadaan 14.000 converter kit dan 13 unit SPBG di tahun 2012.

Faktanya gagal. Apa mau dikata, hingga akhir tahun ini, dari rencana pembagian 15 ribu buah konverter kit yang terealisasi hanya 1.000 buah saja, yakni di Palembang, Surabaya dan Jakarta. Sisanya 14 ribu buah masih proses tender. SPBG pun tak jelas juntrungnya.

Bak tertiup angin, program konversi BBG kembali menguap. Saya takut, pemerintah terjebak dalam praktik korporatisme, ada kepentingan kapital di dalam proyek LCGC. Kebijakan ini sepintas bisa membahayakan negara dalam konteks jangka panjang.

Apakan ada hubungan antara tingginya konsumsi BBM dengan semakin dekatnya musim kampanye yang tentu saja butuh dana besar? Semakin tinggi konsumsi BBM, semakin besar transaksi pembelian BBM, semakin besar pula peluang mendapatkan dana.

Kita ketinggalan jauh dengan negara tetangga Thailand dan Malaysia. Padahal, dulu mereka belajar dari kita di era 80-an. Sementara saat ini kita masih berwacana terus-menerus. Pemerintah seharusnya dapat menggandeng perbankan nasional untuk memberikan pinjaman tanpa bunga bagi masyarakat yang mau beralih ke BBG.

Kalau ingin sukses dan berhasil program percepatan konversi dari BBM ke BBG, maka pemerintah harus gencar mensosialisasikan kepada masyarakat, agar masyarakat tidak berpikir bahwa BBG gampang meledak. Yang terpenting, antar departemen duduk bareng memikirkan bangsa, bukan memikirkan pribadinya.

Foto: begravity.com

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Energi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s