Rumah Sakit ataukah Rumah Sehat ?

Hospital

Pegawai ataukah Perawat
Rumah Sakit 
atau Rumah Sehat

Seorang sahabat Markesot mengalami kecelakaan. Setiap kecelakaan menjadi rezeki, kalau seseorang yang mengalaminya sanggup menemukan ilmu dari “mutiara hikmah” -nya. Tapi, yang menarik dari kejadian itu adalah detik-detik sesudahnya. Orang-orang segera mengerumuni si celaka, tidak untuk menolongnya, tapi untuk merampoknya: royokan uang dan apa saja yang ada di sakunya.

Pembangunan kita antara lain telah memproduksi orang-orang yang sedemikian miskin total, miskin ekonomi dan mental. Kenduri uang dan barang milik orang kecelakaan sudah makin membudaya. Dulu orang tak mau menolong kecelakaan karena takut terseret urusan pengadilan: itu kritik frontal terhadap tidak sehatnya mekanisme hukum dinegara kita. Sekarang sudah meningkat: pada momentum yang amat gawat seperti, terbukti manusia-masyarakat kita menomorsatukan “lapar haus ekonomi” -nya dibanding dengan solidaritas sosial dan cinta kasih kemanusiaan.

Ada kegagalan serius dari pembangunan bangsa kita.

Tapi kemudian, Markesot merasa terhibur ketika di rumah sakit dia melihat perawat-perawat yang lembut dan halus budi. Sahabatnya ditampung di ruang gawat darurat. Markesot dan beberapa teman serta keluarga korban selalu berjaga dalam sedih dan ketegangan.

Daripada melamun, Markesot mengucapkan puja-puji,”Dokter tergolong manusia paling agung di dunia. Perawat adalah manusia terkasih yang tempatnya di surga kelak amat teduh dan damai. Mereka adalah tangan panjang Allah, khalifatullah yang mulia yang bertugas menceraikan manusia dari sakitnya. Mereka adalah pahlawan yang mengusir setiap penyakit dan menghadirkan kesehatan, seperti halnya para psikolog adalah dokter mental, para ulama adalah tabib ruhani. Mereka adalah musuh besar setiap penyakit serta segala yang menyebabkan sakit …”

Rupanya tanpa sadar puja-puji itu terlontar dari mulut Markesot, sehingga ditanggapi oleh teman yang duduk disebelahnya,”Kalau dunia kedokteran dan farmasi telah menjadi industri dan kalau kesehatan manusia telah menjadi komoditas, bisa lain perkaranya!”

“Jangan main-main!” Markesot membantah.

“Tak sedikit dokter yang baik, termasuk dokter yang merawat teman kita itu,” kata temannya lagi,”Tapi di negara-negara maju sana, rumus industrialisasi kedokteran dan kapitalisasi kesehatan itu begini: Makin banyak orang sakit, makin laris dokter dan apotek. Makin banyak orang sehat, makin rendah pendapatan ekonomi dokter dan apotek. Tugas dokter adalah menyehatkan seluruh umat manusia, tapi kalau semua manusia sehat: bisa celaka nasib para dokter …”

“Jaga mulutmu!” bentak Markesot.

“Maka dalam perdagangan dunia yang menjembatani sakit ke sehat, diperlukan beberapa metode pasar: Misalnya orang harus dibikin merasa sakit, dibikin tak yakin terhadap kesehatannya, diperlemah daya imunitasnya, sehingga meningkat kebutuhan mereka terhadap dokter: Obat harus dibikin tidak cespleng, dibikin ada akses yang membutuhkan obat lain. Pokoknya, diciptakan kebergantungan yang tinggi terhadap Mullah-Mulllah kesehatan …”

“Persetan!” kali ini Markesot amat keras membentak, sehingga orang-orang di sekitarnya marah dan markesot pindah duduk.

Tetapi, itu tak mengakhiri niat teman Markesot untuk “menggoda”-nya. Semakin waktu berlalu, hari dan malam berganti, semua terlibat dalam rasa tegang menyaksikan perkembangan pasien, perawat demi perawat bergiliran-makin ada saja tema baru pertengkaran mereka. Markesot yang selalu bersikap memuja dokter dan seolah selalu “mencintai” perawat, disindir oleh temannya,”Kamu ini tipe manuisa pemuja. Kamu tidak bisa berfikir objektif. Dan lagi, kamu selalu mencari kemungkinan mana perawat yang kira-kira bisa kamu ajak kawin …”

“Husysy!” bentak Markesot lagi.

Tapi temannya malah bercerita kemrecek. Dia bilang punya teman namanya Kunto, kawin dengan Yanti, perawat yang merawatnya ketika sakit. Maklumlah, perawat bukan sekadar orang yang menjalankan tugas, melainkan juga seseorang yang penuh kasih sayang dan kemuliaan.

Tapi, ada juga yang tak punya kepekaan sebagai perawat. Juga tak punya kesadaran profesional sebagai perawat. Ada yang “asli”-nya memang judes, cerewet, sengaksinis, sehingga sama sekali tak cocok jadi perawat. “Saya tidak akan menyebutkan namanya,” kata teman markesot, “tapi saya pernah menjumpai perawat yang setiap lontaran dari mulutnya selalu omelan, makian …”

“Dia terlalu letih oleh tugas-tugasnya yang bertumpuk,” sahut Markesot, “kau harus mafhum, dia juga manusia.”

“Saya sarankan agar dia mengusulkan penambahan tenaga, sebab kapasitas kewajibannya tak seimbang dengan tenaganya. Tapi dia bilang tak berhak mengusulkan. Rupanya, orang berpendidikan setingkat perawat pun tidak paham hak-haknya. Karena itu, dia sering tak paham pula batas kewajiban-kewajibannya.”

“Maksudmu?”

“Ada perawat dan petugas kesehatan rumah sakit yang tak menyadari fungsi mereka. Misalnya, dengan enak mereka mengobrol keras-keras di kamar pasien, bahkan di ruang ICU. Menutup pintu depan dengan keras, berjalan dengan sandal diseret-seret, mengerjakan sesuatu dengan mengeluarkan bunyi yang sangat mengganggu ketenangan pasien. Keluarga pasien setengah mati menjaga mulutnya dengan omong bisik-bisik, malah perawatnya seperti penjaja makanan di pasar!”

“Kamu melebih-lebihkan!” Markesot memprotes.

“Demi Tuhan!” tukas temannya, “Saya bisa sebutkan nama-nama mereka, nama rumah sakitnya, jam-jam peristiwanya …!”

“Itu suatu perkecualiaan. Itu manusiawi,” kata Markesot.

“Tapi sungguh-sungguh menjengkelkan. Perawat-perawat seperti itu bersikap seperti penguasa. Mereka tidak informatif, tidak menjelaskan hal-hal yang perlu dijelaskan dan tiba-tiba saja marah seperti serdadu. Mereka tidak bisa diajak dialog. Ditanya sedikit, langsung memotong dan mencak-mencak seperti Betari Durga. Setiap kalimat kita dianggap mendikte.

Ruapanya ini kasus feodalisme kultur dan hierarki kekuasaan. Orang tak bisa berbicara ke kiri atau ke kanan  dalam posisi  sejajar. Dia hanya bisa bicara ke bawah. Ke atas juga tak bisa karena tidak terbiasa mengomongi ke atas, melainkan diomongi atasan.

Kepada setiap orang lain, entah pasien entah keluarga pasien, mereka anggap itu bawahan. Kalau kita mengemukakan sesuatu, dianggapnya membantah, padahal kita memerlukan dialog baik-baik untuk mempertemukan kebaikan dan kebenaran. Mereka biasanya lantas secara subjektif dan sepihak melaporkan hal itu ke dokter atasannya, dan dokter itu tanpa pikir panjang menthung  kita. Kita tentu kalah sama dokter, lha wong dokter itu punya posisi mirip Tuhan …”

“Kamu juga subjektif tampaknya …” potong Markesot.

“Waktu itu saya coba untuk usahakan dialog dengan dokternya. Dokter bilang,”Tak usah dengarkan mereka, mereka itu anak-anak kecil. Saya katakan, kalau dokter bilang mereka anak kecil, saya bisa terima. Tapi kalau kita berbicara tentang profesionalisme, saya akan protes. Boleh saja seseorang tak memberikan kasih sayang manusiawi, asal mereka profesional dan rasional!”

“Ini negara sedang berkembang, belum bisa kita harapkan tingkat profesionalisme seperti yang kamu inginkan.”

“Apa di lembaga pendidikan perawat tak ada mata pelajaran psikologi? Juga kenapa ada perawat yang begitu tidak peka dan tak paham batas-batas fungsi mereka? Mereka berlaku tidak kasih sebagai manusia, sementara tak juga berlaku profesional sebagai tangan dari institusi kesehatan. Bahkan, ada perawat yang bilang, ” Mau begini mau begitu, toh bayarannya sama saja!” Itu sikap seorang sekrup, bukan perawat. Kalau rumah sakit dipenuhi perawat macam itu, ia sungguh-sungguh merupakan Rumah Sakit, bukan Rumah Sehat …”

“Khusus dalam soal nama itu, saya setuju denganmu.” potong Markesot, “Seharusnya jangan disebut rumah sakit, tapi rumah sehat. Rumah sakit itu tempat orang sehat yang memasukinya menjadi sakit. Kalau rumah sehat, orang sakit yang mendatanginya menjadi sehat. Tapi, di negara ini, cita-citamu jangan terlalu tinggi …”

 Emha Ainun Najib
Markesot Bertutur Hal. 189-193

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s