Anakmu Itu Sungguh Anakmu

Baby Feets

Foto: darthpayback.deviantart.com

Penyair Kahlil Gibran mengatakan,”Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu … Mereka adalah anak-anak kehidupan …”

Itu benar dalam konnteks bahwa kita harus memberi peluang kreatif kepada anak-anak kita. Kita tidak diseyogyakan “mencetak” anak seperti kita bikin keramik, dimana anak hanya menjadi alat dari kemauan kita.

Tapi dalam konteks akhlak, anak-anak kita sungguh-sungguh adalah anak-anak kita. Mereka adalah titipan Allah. Amanat Allah. Kita dianugerahi anak karena kita dipercaya oleh Tuhan untuk sanggup mendidiknya.

Kesanggupan itu harus kita terapkan dari detik ke detik. Kita lakukan dengan memahami tegangan antara kemerdekaan dan batasan. Kita sebagai orangtua mengerti kapan “mengulur tali” kapan menariknya.

Kita “berikan” anak kita kepada kehidupan yang luas di luar rumah agar ia belajar dewasa dan matang. Tapi jangan kita berikan anak kita kepada kehidupan di luar rumah yang kita sendiri tak sanggup mempertanggungjawabkannya.

Anak-anak kita sungguh-sungguh anak-anak kita. Kita cintai mereka dengan cara memperhatikan seluruh aspek kehidupan mereka. Kita cintai mereka dengan cara mempersiapkan mereka menjadi manusia yang pantas untuk menghadap Tuhan.

Emha Ainun Najib
Markesot Bertutur Hal. 154-155

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s