Gerakan Hemat Energi Tak Bergigi

Appienergy

Foto: appienergy.com

Kita sering menyaksikan ada orang membeli sabun ke warung mengendarai sepeda motor, meski jaraknya kurang dari 200 meter. Kita juga sering melihat lampu jalan raya menyala sepanjang hari. Belum lagi mobil-mobil berjajar mengantar anaknya menuju sekolah yang sebetulnya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Ini adalah budaya buruk yang tidak hanya memboroskan, tetapi bertentangan dengan gerakan pemerintah tentang penghematan energi nasional.

Gerakan penghematan energi nasional telah diamini serentak pada 1 Juni 2012 yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Satu tahun lebih gerakan itu dikumandangkan, tetapi tak terlihat adanya tanda-tanda keberhasilan. Padahal sasarannya jelas, gerakan nasional penghematan energi meliputi lima langkah. Yaitu :

  1. Pengendalian sistem distribusi di setiap SPBU
  2. Pelarangan BBM bersubsidi bagi mobil pemerintah, BUMN, dan BUMD
  3. Pelarangan penggunaan BBM bersubsidi bagi kendaraan perkebunan dan pertambangan
  4. Konversi BBM ke BBG untuk transportasi
  5. Penghematan penggunaan listrik dan air di kantor-kantor pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN, BUMD serta penghematan penerangan jalan-jalan.

Sebelum gerakan itu digulirkan, dua tahun lalu BPPT sudah memprediksi Indonesia akan mengalami kekurangan energi, sehingga tahun 2030 bangsa ini akan impor semua jenis energi. Nilainya mencapai 1,05 miliar setara barel miyak (SBM). Impor akan didominasi BBM 57 persen, minyak mentah 36 persen dan LPG 6,8 persen.

BPPT juga memperkirakan kebutuhan LPG tahun 2030 mencapai 12 juta ton dan 9 juta ton dipenuhi dari impor. Demikian halnya konsumsi listrik juga akan naik 7 kali lipat, tumbuh sekitar 9,4 persen per tahun dari 135 TWh tahun 2009 menjadi 890 TWh tahun 2030.

Tingginya produksi listrik memerlukan pembangunan kapasitas pembangkit listrik mencapai 6 kali lipat dari 34 gigawatt tahun 2009 menjadi 183 gigawatt tahun 2030.

Disamping itu, sektor perindustrian masih menjadi pengguna energi nomor satu di negara ini mencapai 49,4 persen dari konsumsi energi nasional. Untuk itu upaya penggunaan energi non-migas harus terus ditingkatkan.

Konsumsi energi industri, didominasi oleh tujuh industri yang dinilai padat industri yakni, industri pupuk, pulp dan kertas, tekstil, semen, baja, keramik, dan industri pengolahan kelapa sawit.

Maka, harus ada antisipasi untuk mengurangi prediksi tersebut. Karena situasi impor menggambarkan energi yang disediakan dalam negeri kurang dibandingkan jumlah energi yang dibutuhkan. Caranya bisa dengan meningkatkan efisiensi energi dan fasilitas hemat energi.

Pemborosan energi berlangsung tanpa kendali, pada saat negara kesulitan mencari sumber energi baru. Inilah bukti ketidakjelasan arah kebijakan energi kita. Selama ini, apa yang dikatakan kementrian ESDM terkait kontrol dan pengelolaan sektor energi serta realisasinya tidak pernah sama, bahkan banyak kebijakan yang inkonsistensi.

Fakta pembuktian, pada saat ketersediaan sumber energi semakin menipis pemerintah menyetujui produksi mobil murah yang mengambil label hemat energi. Di sisi lain, pemerintah berjanji akan mengembangkan energi baru terbarukan, tetapi kendalanya peraturan saling berbenturan, tidak pernah dituntaskan. Program-program pengembangan energi baru terbarukan kurang mendapatkan dukungan, baik dari segi dana maupun teknologi.

Dari tahun ke tahun apa yang dibahas dan diributkan oleh pemerintah selalu sama, masalahnya itu-itu saja. Wajar saja jika pengelolaan dan pengembangan sektor energi bangsa ini, jalan di tempat dan jauh tertinggal dari negara-negara seperti Thailand, India, dan Singapura.

Jika pemerintah tidak segera serius dalam membenahi pengelolaan sektor energi, maka prediksi BPPT akan menjadi kenyataan. Negara yang katanya kaya raya sumber daya alam ini, akhirnya akan menjadi importir segala jenis energi. Dampaknya, ketahanan bangsa ini juga akan tergadaikan.

Saat ini energi ibarat ”power” bagi sebuah negara, apa jadinya kalau kebutuhan energi kita tergantung kepada negara lain. Kedaulatan negara kita akan sangat rentan sekali terhadap gangguan dan campur tangan negara lain.

Jika tidak diikuti langkah nyata, maka gerakan-gerakan seperti itu hanya bersifat simbol belaka. Gerakan hemat energi, jelas tak bergigi.

Rubiyanto
Pemimpin Umum Geo Energi

Tinggalkan komentar

Filed under Energi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s