Pertanyaan Retoris ?

Question

Foto: coverlaydown.com

Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu yang dibutuhkan cuma waktu. – DEE | Partikel

Bagiku tidak selalu demikian. Sebuah pertanyaan memang menginginkan bahkan mungkin membutuhkan sebuah jawaban. Namun, apakah semua pertanyaan selalu dipertemukan dengan jawaban ? Ataukah justru sebuah pertanyaan mengantarkan kita menuju pertanyaan yang lainnya hingga tak tahu kapan habisnya.

Layaknya pertanyaan tentang Tuhan. Apakah ini bisa dikategorikan sebagai pertanyaan retoris ? Dimana pertanyaan ini tak perlu dijawab karena jawaban sudah ada di dalam pertanyaan itu sendiri. Bagi manusia yang mempercayai keberadaan Tuhan ini bukan perkara. Namun, bagaimana dengan manusia yang mengaklamasikan diri sebagai apatis atau tidak mempercayai keberadaan Tuhan ?

Sebuah pertanyaan dikatakan retoris atau tidak itu relatif. Tergantung dari objek yang dikenai pertanyaan, seperti contoh diatas. Dilain hal pertanyaan justru membuat manusia berpikir bukan hanya untuk menjawabnya. Namun, bisa saja pilihan lainnya seperti cukup meyakininya tanpa perlu berkata.

Ketika seseorang ditanya dan ia terdiam, itu bukan berarti ia tak bisa menjawabnya. Ia justru berpikir bahwa diam pun merupakan sebuah jawaban. Ia menjawab dalam diam. Ini berbicara tentang usaha [ berpikir ] bukan sekedar hasil saja yang tersaji dalam bentuk angka ataupun kata.

Bagiku, pertanyaan justru membutuhkan sebuah kemauan [ berpikir ] dalam menemukan jawaban. – Perioksida

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s