Tiga Smelter Lokal Siap Pasok Alumina Untuk Inalum

Foto: zhen-yang.deviantart.com

Kamis, 31 Okt 2013 – 10:32:20 WIB

Satunegeri.com – Tiga perusahaan pengolahan bauksit (smelter alumina), yaitu PT Well Harvest Winning Alumina, PT Aneka Tambang (Persero) dan dan PT Bukit Merah Indah siap memasok alumina untuk kebutuhan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Hal tersebut dikemukakan Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dede Ida Suhendra di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (30/10).

“Smelter telah kami tentukan dan siap memasok bauksit untuk dijadikan alumina di 2014-2015, yaitu PT Antam di Mempawah dan PT Well Harvest Winning Alumina di Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat,” ujar Dede

Inalum telah mengakhiri kontrak dengan Jepang. Lebih lanjut Dede merincikan, sekitar 250 ribu ton per tahun dipasok dari PT Antam, 300 ribu ton per tahun dari PT Well Harvest Winning Alumina, dan 300 ribu ton per tahun dari PT Bukit Merah Indah.

“Ini baru ancang-ancang. Tahun depan pengolahan bauksit (smelter alumina)dari kedua perusahaan itu. Saat ini PT Antam cari partner, lagi feasibility study,” tuturnya.

Dikatakannya, selisih harga alumina 10 kali lipat dari bauksit yaitu dari US$20 ke US$200 per ton.

“Aluminium 10 kali lipat dari harga Alumina yakni US$350 per ton ke US$2500 per ton aluminium. Harga Aluminium masih menunggu,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Well Harvest Winning Alumina merupakan perusahaan patungan investasi lokal dan Cina. Investor lokal oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) memegang kepemilikan 25 persen saham dan sisanya oleh China Hongqiao Group Limited 60 persen, Winning Investment (HK) Company Limited 10 persen dan PT Danpac Resources Kalbar 5 persen. Nilai investasi pembangunan pabrik ini diperkirakan mencapai US$ 1 miliar (sekitar Rp 9,8 triliun) dengan kapasitas produksi sebesar 2 juta ton alumina per tahun.

Realisasi nilai investasi tersebut akan dibagi dalam dua tahap, yakni pada 2013 hingga pabrik berdiri pada 2015 pabrik beroperasi sebesar US$ 500 ribu dengan kapasitas 1 juta ton alumina.

Setengahnya lagi pada 2016, ketika pabrik sudah beroperasi selama 1 tahun. Pembangunan pabrik ini, merupakan respon diberlakukannya Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Mineral dan Batu-bara dan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2012.Kedua beleid tersebut menyatakan untuk segera melakukan program peningkatan nilai tambah produk pertambangan, serta kewajiban mengolah dan memurnikan mineral di dalam negeri.

Sekadar untuk diketahui, industri aluminium nasional mengalami kekosongan di sektor hulu. Namun baru mulai ada pemainnya di sektor antara dan ramai pemain di sektor hilir.

Pemerintah telah memberikan skema insentif fiskal, di antaranya pembebasan pajak penghasilan untuk periode waktu tertentu (tax holiday) untuk mendorong investasi di sektor hulu aluminium. Struktur industri aluminium nasional terputus karena bauksit sebagai bahan baku utama 100 persen diekspor ke luar negeri. Setelah menjadi alumina, industri nasional mengimpornya 100 persen untuk diolah menjadi aluminium ingot.

Hingga saat ini, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), yang merupakan satu-satunya produsen ingot nasional mendapatkan pasokan alumina 100 persen dari impor. Berdasarkan data Inalum, total kebutuhan aluminium nasional diestimasikan sebesar 500 ribu ton per tahun. Sedangkan Inalum hanya mampu mensuplai aluminium ingot untuk pasar domestik sebesar 100 ribu ton per tahun.

Dalam industri pengolahan bauksit menjadi alumina ada dua jenis, yakni chemical grade alumina yang produk hilirnya merupakan industri kimia, seperti kosmetik. Jenis lainnya adalah smelter grade alumina, yang produk hilirnya adalah industri aluminium. PT Antam juga sudah berinvestasi untuk dua jenis pengolahan bauksit. Yakni investasi pengolahan bauksit yang chemical grade alumina, melalui proyek Tayan di Kalimantan Selatan dengan nilai investasi US$450 juta.

Serta investasi smelter grade alumina untuk proyek di Mempawah, Kalimantan Barat senilai US$1 miliar. PT Antam menggandeng Hangzhou Jinjiang Group, China. Hangzhou akan menguasai 51 persen saham dan Aneka Tambang 49 persen pada proyek tersebut. Rencananya proyek Mempawah akan memiliki kapasitas 1,2 juta ton per tahun.

Tinggalkan komentar

Filed under Mineral

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s