Nasehat Pertama buat Mahasiswa

Pesan Pertama buat Mahasiswa

Seorang mahasiwa datang ke markas KPMb [ Konsorsium Para Mbambung ] untuk mengungkapkan kegelisahan, kecemasan, kesedihan, tuntutan, dan proses meskipun tidak jelas kepasa siapa itu semua ditujukan.

Tampaknya ia anak muda yang rajin belajar. Tidak hanya membaca diktat kuliahnya. Tidak hanya memprihatinkan urusan kakrier belaka. Istilahnya sekrang, ia punya kepedulian sosial yang tinggi. Ia berempati terhadap masalah-masalah masyarakat, baik skala lokal maupun nasional dan internasional.

Sedemikian besar perhatiannya pada persoalan-persoalan besar sehingga kepalanya seperti tidak muat, hatinya terguncang, mentalnya tak sanggup menampung. Untunglah ia tak sampai mengalami semacam “gegar otak halus”.

Ia berpidato tanpa batas waktu di depan anak-anak KPMb.Soal apa saja disebutnya. Misalnya, stagnasi demokrasi nasional kita. Tak habis-habisnya pembangunan meminta pengorbanan rakyat kecil. Penggusuran, fetakompli, pembodohan, apa saja pokoknya. Tapi, yang membuat ia seolah-olah menangis, ada hal.

Pertama, kekhawatiran tentang nasib bantuan-bantuan nasional dan internasional kepada rakyat Flores yang kena musibah. Ia mengisahkan banyak sekali kejadian ironis, bocoran, korupsi, kelakuan pada Raja Tega

“Mekanisme bernegara kita selama ini kondang tidak amanah. Dalam kesempitan seperti apa pun, kita selalu sanggup mencuri kesempatan. Apalagi dalam keleluasaan seperti membludak-nya bantuan Flores itu. Sebenarnya saya tidak kaget mendengar berita bocoran apa pun, tetapi ternyata sedih juga. Lebih sedih lagi karena sementara itu kita tidak punya mekanisme dialog atau keterbukaan untuk mengatakan apa adanya di media massa …,” katanya.

Belum selesai ia bercerita tentang Flores, lompat ia ke Amerika. Ia meratapi Clinton yang mendukung kejahatan Bush dan ketidakadilan Amerika Serikat secara menyeluruh atas kasus Irak, Israel, dan Bosnia. “Sesungguhnya ada juga optimisme di benak saya, Clinton akan kena bumerang antara semakin bangkrutnya perekonomian Amerika dengan warisan arogansi mereka di dunia internasional, tetapi betapapun Amerika masih cukup kuat beberapa lama untuk mendemonstrasikan megalomania mereka …”

Alhasil, mahasiswa kita ini menguraikan panjang lebar keadaan-keadaan sejarah kontemporer. Semuanya menyedihkan hatinya, dan du ujung setiap kalimatnya, ia selalu bertanya,”Apa yang sebaiknya saya lakukan ?”

Diulang lagi dan lagi,”Apa yang bisa saya lakukan ? Apa yang bisa saya lakukan ?”

Setelah lewat tengah malam, Markesot yang sejak awal hanya manggut-manggut mendengarkan pidato itu, mendadak nyeletuk dengan sebuah nasihat kepada sang mahasiswa,”Kamu bertanya apa yang bisa kmu lakukan ?”

“Yaaa,” jawab mahasiswa dengan wajah memelas.
“Segera selesaikan skripsimu !”

Dikutip dari Buku “Markesot Bertutur Lagi
Hal 287. karya Emha Ainun Najib

Iklan

Tinggalkan komentar

1 Oktober 2013 · 8:17 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s