Produk Internasional Turut Cemari Sungai Citarum

Produk Internasional Turut Cemari Sungai Citarum

Ridwan
Kamis, 18 Apr 2013 – 08:51:09 WIB

SatuNegeri.com – Dalam investigasinya di cungai citarum, Greenpeace Indonesia mengungkapkan bahwa merek fashion internasional ternyata turut menyumbangkan pencemaran limbah industri yang mengandung sejumlah bahan kimia beracun dan berbahaya ke Sungai Citarum.

Juru Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia Ahmad Ashov Birry di kantor Greendpeace, Jakarta, Rabu (17/4) mengatakan, dari sampel air limbah yang dibuang dari pabrik PT Gistex Group yang berada di Desa lagadar Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung di tiga titik pembuangan pada Mei 2012, pihaknya menemukan beragam bahan kimia yang sifatnya persiten artinya mereka akan bertahan untuk waktu yang lama setelah dilepaskan ke lingkungan.

PT Gistex Group merupakan perusahaan yang pernah mempunyai hubungan bisnis dengan Gap, Old Navy, dan Banana Republic. Bahkan produk seperti Adidas Group, Brooks Brother (baju yang sering digunakan Presiden Amerika Barack Obama) dan H & M.

Menanggapi pernyataan tersebut, PT Gistex Group menyatakan bahwa PT Gistex selalu menaruh perhatian pada lingkungan dan masyarakat. “Pabrik kami dilengkapi dengan pengelolaan air limbah untuk menghindari pencemaran lingkungan,” kata pihak PT. Gistek Group.

Menurut Ahmad, Hal senada juga dikatakan Adidas Group, Brooks Brother dan GAP inc (yang memiliki merek Gap, Old Navy, dan Banana Republic). Kepada Greenpeace, GAP Inc menyatakan tanggung jawab lingkungan artinya jauh lebih besar dibandingkan sekedar menjadi hijau atau menjual produk-produk hijau.

Begitu pula Adidas Group yang memang masih belum memberi Greenpeace penjelasan gamblang dan lengkap secara tertulis mengenai hubungan bisnis masalah lalu dan saat ini dengan PT Gistex Group. Namun, Marubeni Corp menolak menanggapi Greenpeace.

“Ya pada intinya, kami melihat mereka pernah memiliki hubungan bisnis baru-baru ini dengan PT Gistex Group. Dimana mereka merupakan perusahaan yang terasosiasi dengan fasilitas yang melakukan pencemaran oleh PT Giztex Group di Indonesia,” tambah Ahmad.

Menurut dia PT Gistex hanyalah satu contoh terhadap masalah yang lebih luas lagi terkait bahaya beracun yang dibuang oleh pabrik manufaktur tekstil, serta sektor industri lainnya, terutama merek-merek besar, dengan rantai pasokan di berbagai negara, mempunyai posisi unik dalam memberi pengaruh positif pada upaya mengutangi dampak lingkungan dari industri tekstil serta membantu upaya dan penghentian penggunaan bahan kimia berbahaya dan beracun di seluruh sektor industri.

Koordinator Waterpatrol Greenpeace Indonesia Hilda Mutia menambahkan, pemerintah harus segera membentuk Komisi bahan Berbahaya Beracun (B3). Nantinya Komisi menurutnya akan bertanggung jawab untuk mengevaluasi bahan kimia yang terdapat di pasaran dan merekomendasikan bahan-bahan yang harus dimasukan dalam daftar B3, baik yang dibatasi maupun dilarang.

“Untuk daftar B3 dapat berasal dari evaluasi inventarisasi bahan kimia nasional melalui penggunaan metodologi penjaringan yang komprehensif, transparan, serta berdasar kerakteristik materi berbahaya beracun. Sehingga, proses inventarisasi yang saat ini sedang didiskusikan pemerintah harus meliputi semua bahan kimia yang beredar dipasaran, bukan saja yang sudah diregulasi sebagai bahan berbahaya beracun,” ucapnya.

Tinggalkan komentar

18 April 2013 · 10:31 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s