Ini Alasan Perusahaan Tambang Ogah-Ogahan Bangun Smelter

Ini Alasan Perusahaan Tambang Ogah-Ogahan Bangun Smelter

Foto: khpouros.deviantart.com

Detikfinance.com  Rista Rama Dhany
Senin, 15/04/2013 14:41 WIB

Jakarta – Pemerintah akan melarang ekspor hasil tambang mentah mulai 1 Januari 2014. Ini agar industri pengolahan hasil tambang di dalam negeri bisa hidup.

Namun, perusahaan tambang dalam negeri masih ogah-ogahan membangun smelter (pabrik pengolahan tambang), apalagi batas waktunya tinggal sedikit lagi.

Dikatakan Ketua Asosiasi Pertambangan Indonesia Martiono Hadianto, pihaknya telah melakukan kajian terhadap lima komoditi yang disyaratkan harus diolah melalui smelter.

“Lima komoditi tersebut ada bijih besi, nikel, timbal dan seng, tembaga, dan alumina,” ucap Martiono kepada wartawan di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (15/4/2013).

Dikatakan Martiono, di antara lima komoditi yang sudah dilakukan kajian, pasir besi kesimpulannya ekonomis, nikel dan alumina layak secara ekonomi tapi butuh 2 syarat, sedangkan timbal, seng, dan tembaga tidak.

“Besi untuk dijadikan sponge iron dibutuhkan dana investasi untuk membangun pabrik smelternya sebesar US$ 132 miliar, sedangkan besi dijadikan ping iron dibutuhkan investasi sebesar US$ 165 miliar,” ucapnya.

Sedangkan nikel dan alumina layak secara ekonomi namun membutuhkan 2 hal strategis. Pertama adalah pasokan listrik yang mencukup dan murah, karena satu smelter nikel butuh listrik 150-300 megawatt. Sedangkan untuk smelter alumina membutuhkan listrik 156 megawatt. Kemudian investasi untuk smelter nikel menjadi feronikelmencapai US$ 972 miliar atau Rp 9 triliun.

“Sedangkan untuk mengolah nikel menjadi HPAL dibutuhkan investasi US$ 1.160 miliar, sedangkan untuk mengolah alumina menjadi smelter grade alumina dibuthkan investasi sebesar US$ 1.662 miliar,” ungkapnya.

Nilai investasi yang sangat besar tersebut membuat perusahaan tambang sulit mengembangkan smelter. “Tentunya tidak mungkin dari satu institusi, harus konsorsium, nah konsorsiumnya dalam negeri apa luar negeri? kalau dalam negeri pakai rupiah dengan bunga tinggi, kalau luar negeri pakai dolar dengan bunga lebih kecil,” ucapnya.

Apalagi faktanya dari beberapa informasi, belum ada satu pun investor smelter yang bisa selesaikan pembangunan pabriknya pada 2014.

“Kalau pun mengendalkan smelter di Gresik, mereka harus tambah kapasitas hingga 600.000 ton dan itu membutuhkan dana investasi sebesar US$ 3,6-US$ 6 miliar,” tegasnya.

Kalau pemerintah tetap ingin menerapkan aturper 1 Januari 2014 dilarang ekspor, kata Martiono ya semuanya bisa melanggar hukum. “Ya mbok dikaji lagi aturan tersebut,” tandasnya.

Tinggalkan komentar

15 April 2013 · 6:20 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s