Chevron Incar Panas Bumi di Gunung Geureudong

Chevron Incar Panas Bumi di Gunung Geureudong

Foto: inFblue.deviantart.com

Maulana
Jumat, 12 Apr 2013 – 11:05:55 WIB

SatuNegeri.com – Untuk menindaklanjuti Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 1905.K/30/MEM/2013, PT Jasa Daya Chevron yang merupakan anak usaha Chevron Geothermal Indonesia akan melakukan survei pendahuluan panas bumi di wilayah pertambangan panas bumi Gunung Geureudong.

Kepmen ESDM No. 1905.K/30/MEM/2013 tersebut menugaskan anak usaha Chevron untuk melakukan survei pendahuluan di lahan seluas 108.500 hektare. Penugasan tersebut dilakukan sejak keputusan terbit hingga setahun mendatang.

penanggung jawab PT Jasa Daya Chevron, Paul E. Mustakim mengatakan, pihaknya akan memulai kegiatan survei selama 1 tahun, dan mencari titik mana saja yang memiliki potensi panas bumi di sana.

Menurut Paul, perusahaan akan memastikan apakah wilayah kerja pertambangan panas bumi itu benar memiliki kapasitas sebesar 120 megawatt. Hasil tersebut nantinya akan dilaporkan kepada Kementerian ESDM sebagai dasar dari ditetapkannya wilayah tersebut sebagai wilayah kerja pertambangan untuk ditenderkan.

untuk menggarap survei geofisik, geologi, dan geokimia di wilayah tersebut, Paul mengaku telah menyiapkan investasi senilai US$1,3 juta. Karena itu, ia berharap pihaknya dapat terus melanjutkan pengembangan panas bumi di Gunung Geureudong.

“Kami tentu berharap memperoleh izin pengembangan panas bumi di wilayah itu. Nantinya diperlukan waktu sekitar 6 tahun untuk mengembangkan PLTP mulai dari survei pendahuluan hingga pengoperasiannya,” jelasnya.

proses perizinan dan tahapan pengembangan yang membutuhkan waktu sekitar 6 tahun hingga cadangan panas bumi itu dapat di produksi, membuat Proses pengembangan panas bumi di dalam negeri masih memerlukan waktu yang lama.

Saat ini sendiri, Chevron Geothermal memiliki dua wilayah kerja pertambangan panas bumi yang saat ini telah berproduksi di Salak dan Darajat. WKP panas bumi di Salak memiliki cadangan sebesar 337 megawatt, sedangkan di Darajat memiliki cadangan sebesar 270 megawatt.

Selain telah menetapkan feed in tariff listrik dari panas bumi, pemerintah juga menyediakan Rp3 triliun untuk membiayai proses eksplorasi panas bumi di sejumlah wilayah kerja pertambangan panas bumi yang belum digarap perusahaan swasta. Hal itu dilakukan pemerintah, untuk mendorong pihak swasta untuk memanfaatkan panas bumi untuk sumber energi pembangkit listrik.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan Rp3 triliun dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) untuk melakukan eksplorasi panas bumi. Dengan begitu, pemerintah akan memiliki data cadangan yang lebih baik dan dapat digunakan sebagai jaminan pinjaman ke perbankan.

sebenarnya pemerintah menginginkan dana tersebut bisa digunakan oleh perusahaan yang telah memegang IUP dan telah mengelola wilayah kerja pertambangan panas bumi itu. Akan tetapi, aturan saat ini hanya membolehkan dana green fund itu digunakan untuk proses eksplorasi di wilayah kerja pertambangan yang belum dikeluarkan IUP-nya.

Sementara perusahaan yang ingin mendapatkan dana green fund itu, lanjut Rida, akan dikenakan mekanisme peminjaman dengan bunga seperti pendanaan perbankan. Hal itu juga lah yang menyebabkan banyak perusahaan yang mengurungkan niatnya untuk mengajukan pinjaman.

Menurutnya, dana tersebut nantinya juga harus dikembalikan oleh perusahaan yang memenangkan lelang wilayah kerja pertambangan panas bumi yang telah dieksplorasi dengan menggunakan dana green fund.

Untuk melakukan eksplorasi di satu wilayah kerja pertambangan panas bumi setidaknya membutuhkan US$30 juta. Pasalnya, untuk mendapatkan data cadangan terbukti panas bumi, pengembang harus melakukan pemboran di 3 sumur yang membutuhkan US$7 juta per sumur.

Tinggalkan komentar

13 April 2013 · 12:24 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s