Meski Merugikan Devisa, Pemerintah Tetap Lakukan Ekspor Gas

Meski Merugikan Devisa, Pemerintah Tetap Lakukan Ekspor Gas

Ramdan
Kamis, 14 Mar 2013 – 14:32:24 WIB

Satunegeri.com – Dengan alasan untuk mendapatkan pendapatan negara, Indonesia akan tetap mengekspor gas, karena harga ekspor gas jauh lebih mahal. Meskipun dalam kenyataannya kebutuhan dalam negeri tiap tahun terus meningkat.

Menteri ESDM Jero Wacik mengungkapkan ketika ditemui usai peluncuran buku Hemat Energi bersama Pak ESDM dan Kawan-Kawan, di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Kamis (14/3), ekspor gas dilakukan untuk mendapatkan pendapatan bagi negara, karena harga gas ekspor tinggi sekitar US$ 18 per mmbtu (sementara harga gas dalam negeri sekitar US$ 7-11 per mmbtu).

Saat ini dari total produksi gas Indonesia, sebanyak 51% masih diekspor. “Tapi kebijakan saya, porsinya akan terus berkurang, seperti di Tangguh Papua dulu 0% porsi gas untuk dalam negerinya, tapi sekarang 40%, sebanyak 60%-nya ekspor,” ungkapnya.

Namun sebelumnya, Anggota Komite BPH Migas, Qoyum Tjandranegara dalam Seminar Open Acess di Kementrian Perindustrian, Jakarta, Rabu (13/3), meminta pemerintah menghentikan ekspor gas, agar kerugian devisa negara akibat ekspor dapat ditekan.

Menurutnya, ekspor gas secara besar-besaran yang dilakukan pemerintah saat ini menyebabkan kerugian devisa yang jumlahnya mencapai ratusan triliun. “Mulai 2011 itu, kita kehilangan devisa sampai Rp183 triliun, belum lagi yang sebelum-sebelumnya. Mengekspor gas itu merugikan negara, tapi sekarang masih saja mengekspor,” ungkapnya.

Dia menegaskan, ekspor gas secara berlebihan merupakan salah satu permasalahan utama dalam kebijakan energi nasional. Lebih dari 50 persen gas bumi Indonesia diekspor ke berbagai negara seperti Singapura, Korea, Malaysia, dan negara-negara lainnya.

“Produksi gas 1,5 juta barel per hari ekuivalen dan bisa naik lagi. 1,5 juta itu kira-kira di atas 50 persen diekspor, mengekspor gas itu kan kita kehilangan devisa,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Industri Berbasis Manufaktur Kemenperin, Panggah Susanto menyatakan, bahwa pertumbuhan industri non migas perlu didukung oleh beberapa hal, salah satunya adalah pasokan gas. Saat ini, pasokan gas kurang memadai, sehingga daya saing industri di dalam negeri tidak maksimal.

Tinggalkan komentar

18 Maret 2013 · 3:25 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s