PASOKAN GAS: Tak Dapat Alokasi Dari West Natuna Point, PLN Batam Terancam Kedodoran

by_kagome_inuyashkina-d4kcwde

Chandra Gunawan
Kamis, 28 Februari 2013 | 15:32 WIB

BATAM -Kota Batam terancam menghadapi kebuntuan pasokan listrik pada 2014 jika PT PLN Batam tidak berhasil mendapatkan swap alokasi pasokan gas dari West Natuna Point.

Muhammad Darwin, Sekretaris Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kepulauan Riau, mengungkapkan Kota Batam membutuhkan pasokan energi tambahan jika melihat pertumbuhan pelanggan yang mencapai 30% per tahun dan setelah interkoneksi Batam-Bintan berjalan.

Salah satu opsi untuk menyeimbangkan pertumbuhan tersebut adalah dengan mendapatkan pasokan gas dari Natuna.

“Kalau 2014 swap alokasi gas dari Natuna tidak masuk, PLN Batam akan melakukan pemadaman sistemik, bukan lagi pemadaman bergilir tapi penyalaan bergilir,” ujarnya, Kamis (28/2/2013).

Menurutnya meski saat ini daya listrik PLN Batam berlebih, namun pertumbuhan pelanggan yang tinggi sekaligus rencana penyaluran listrik ke Pulau Bintan melalui interkoneksi akan mengakibatkan kekurangan energi bahan bakar untuk listrik pada 2014.

Pasokan energi untuk pembangkit listrik anak perusahaan PLN Persero itu berupa gas yang dipasok dari Grissik dan Batu Bara dari Kalimantan.

Dia mengatakan PT PLN Batam harus berhasil mendapatkan pasokan gas dari Natuna. Saat ini, lanjut dia, penyaluran gas dari Natuna Barat untuk PLN B’right Batam dan PT UBE masih terhalang pembangunan pipa penyambung di Pulau Pemping.

Rencananya, gas yang disalurkan ke Batam akan menggunakkan pipa Natuna-Singapura West Natuna Transportation System (WNTS).
“Di tengah laut, akan dibuat sambungan (tie in) ke Pulau Pemping lalu menyambung ke Pulau Batam,” kata dia.

Dia menjelaskan penyambungan pipa dari WNTS ke Pulau Pemping dibangun Premier Oil, sedangkan dari Pulau Pemping ke Batam merupakan tanggung jawab PLN B’right Batam bersama rekan satu konsorsiumnya PT UBE.

Namun menurut dia ada beberapa kendala pembangunan pipa, di antaranya perlu jaminan berupa tanggung jawab resiko senilai US$4 juta yang dibayarkan berkelanjutan.

“Kami minta liability ditanggung saat pemasangan saja. Tapi mereka maunya hingga pengoperasian. Kalau begitu tidak ada asuransi yang mau menanggung,” kata dia.

Tinggalkan komentar

28 Februari 2013 · 11:03 PM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s