Pemkab Banjarnegara Investasikan Rp 841 miliar Untuk Energi Mikrohidro

20130106_Pemanfaatan_Saluran_Irigasi__5374

Foto: tribunnews.com

Rahma  |  Rabu, 13 Feb 2013 – 11:08:07 WIB

Satunegeri.com — Pemkab Banjarnegara, Jawa Tengah investasikan Rp 841 miliar Untuk Energi Mikrohidro. Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo, Senin (11/2), mengatakan, dari 23 titik pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH), masing-masing punya kapasitas produksi listrik berbeda.

“Pemkab Banjarnegara, menggenjot pemanfaatan potensi energi mikrohidro untuk menjangkau seluruh dusun di wilayah pegunungan yang hingga kini belum teraliri listrik,” kata Bupati. Hingga kini, pemerintah setempat telah menerbitkan izin untuk pembangunan 23 titik pembangkit listrik tenaga mikrohidro dengan nilai investasi Rp 841 miliar.

”Ada yang hanya beberapa kilowatt, tetapi ada juga yang sampai megawatt (MW). Investasi PLTMH memang cukup mahal. Untuk membangun 1 MW, butuh dana tidak kurang Rp 18 miliar,” tuturnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Banjarnegara Fakhrudin Slamet Susiadi menjelaskan, Banjarnegara kaya akan potensi sumber daya alam yang dapat digunakan untuk pembangkit tenaga listrik terbarukan, mulai dari mikrohidro hingga panas bumi.

Ironisnya rasio elektrifikasi di Banjarnegara termasuk yang paling rendah di antara 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah.Berdasarkan data PLN Distribusi Jateng-DI Yogyakarta, rasio elektrifikasi di Jateng sampai tahun 2011 mencapai 76,63 persen. Masih ada 4.406 dusun di Jateng yang belum menikmati listrik. Itu sebagian besar berada di Klaten, Banyumas, Pekalongan, Kebumen, Banjarnegara, dan Cilacap. ”Di Banjarnegara, ada 278 desa/kelurahan sudah teraliri listrik. Tetapi, masih banyak dukuh dan dusun yang belum terjangkau jaringan listrik,” katanya.

Oleh karena itu, dibuka investasi swasta di bidang kelistrikan mikrohidro. Namun, diakui Kadis Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral Banjarnegara Doni Sutrisno, dari puluhan izin investasi PLTMH yang sudah dikeluarkan, baru lima PLTMH yang sudah dibangun. Dari lima investor itu, dua unit sudah memberikan kontribusi dan tiga unit akan beroperasi pada 2013.

Sementara itu, menghadapi krisis air tahun 2025, wilayah eks Karesidenan Surakarta akan memanfaatkan air Waduk Serbaguna Wonogiri sebagai air baku untuk minum di wilayah Wonogiri, Solo, Sukoharjo, Karanganyar, dan Sragen (Wososukas). Selama ini, baru Kabupaten Wonogiri yang memanfaatkan air dari waduk yang diolah sebagai air minum.

Keterbatasan sumber air minum mulai jadi masalah, seperti terjadi antara Pemerintah Kota Solo dan Pemkab Klaten yang berselisih soal pemanfaatan sumber air di Cokro, Tulung, dan hingga kini belum menemukan titik temu.

”Kami masih tahap detailed engineering design dan nota kesepahaman. Sistem pengelolaan air minum (SPAM) regional di wilayah ini dilakukan bertahap. Tahap pertama direalisasikan 2014-2015,” kata Ketua SPAM Regional Wososukas Suharno, Senin (11/2). Dana total yang dibutuhkan Rp 1,7 triliun bersumber dari APBN, APBD Jateng, dan APBD kabupaten/kota terkait. Dari total kebutuhan air 2.100 liter per detik, diharapkan pada tahap pertama 1.100 liter per detik.

Tinggalkan komentar

Filed under Energi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s