MINERBA: IMA Minta Pemerintah Tak Terbitkan Kebijakan Pukul Rata

Blog 18

Lili Sunardi | Kamis, 14 Februari 2013 | 20:30 WIB
JAKARTA: Indonesian Mining Association (IMA) meminta pemerintah tidak lagi mengeluarkan kebijakan yang memukul rata seluruh komoditas guna mendorong hilirisasi sektor mineral dan batu bara (Minerba).

Sekretaris Eksekutif IMA Hendra Sinadia mengatakan selama ini kebijakan yang dikeluarkan untuk mendorong hilirisasi terkesan memukul rata semua komoditas. Padahal, tidak semua komoditas memiliki nilai keekonomian yang sama saat masuk proses pengolahan dan pemurnian.

“Iron ore dan nikel memang memiliki nilai keekonomian yang bagus kalau diolah dan dimurnikan, akan tetapi komoditas tembaga itu justru nilai keekonomiannya tidak terlalu bagus kalau dimurnikan,” ujarnya, Kamis (14/2).

Hendra mengungkapkan harga konsentrat tembaga dengan kadar 40% mencapai sekitar US$7.500 per ton, sedangkan harga tembaga katoda dengan kadar sekitar 99,9% hanya sekitar US$8.000 per ton. Dengan demikian, pengusaha akan berpikir ulang untuk membangun pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) tembaga di dalam negeri.

Menurutnya, pemerintah harus mau melakukan kajian kembali secara komprehensif terkait persentase kadar minimal mineral yang dapat diekspor pada lampiran Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 7/2012. Pasalnya, selama ini pelaku usaha jarang dilibatkan dalam pembahasan beleid itu.

“Mungkin pemerintah memiliki tim yang bagus di bidang metalurgi dan pertambangan, tapi untuk membuat kebijakan yang implementatif, harus melibatkan pelaku usaha yang mengetahui struktur market komoditas yang akan diatur nantinya,” jelasnya.

Hanung Harimba, Direktur Perencanaan Industri Agribisnis dan Sumber Daya Alam BKPM, sebelumnya mengatakan perlu insentif dalam pelaksanaan kebijakan hilirisasi mineral.

Insentif itu dapat berupa peninjauan kembali kebijakan yang dianggap kurang mendukung hilirisasi, meninjau kebijakan dari mitra dagang yang dianggap dapat menghambat proses hilirisasi, serta dukungan infrastruktur seperti pasokan listrik.

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s