GAS ALAM CAIR: Target Produksi LNG Tahun Ini Turun

Riendy Astria
Kamis, 24 Januari 2013 | 15:33 WIB

JAKARTA – Pemerintah menargetkan produksi gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) sepanjang tahun ini sebesar 297 kargo. Nilai produksi tersebut turun dari produksi LNG nasional sepanjang 2012 yaitu 318,72 standar kargo.

Kepala Monetisasi Minyak dan Gas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Popi Ahmad Nafis mencatat produksi LNG nasional tahun ini memang lebih rendah dari tahun lalu. Hal ini terjadi karena penurunan produksi gas di Kilang Arun NGL dan Badak NGL.

“Memang ada penurunan produsi,” kata Popi, Rabu (23/1). Selain itu, sempat terjadinya kerusakan di Train 1 dan Train 2 Kilang Tangguh beberapa watu lalu juga menjadi salah penyebab produksi LNG turun.

Sepanjang tahun ini, produksi LNG nasional diharapkan bisa mencapai 297 kargo. Jumlah tersebut berasal dari asumsi Kilang Tangguh yang aan memproduksi 107 standar kargo. Kemudian, Kilang Badak 169 Kargo, dan Kilang Arun 21 standar kargo. Adapun jumlah LNG yang aloasikan untuk domestik sekitar 11 kargo.

Sedangkan produksi LNG nasional pada 2012 sebesar 318,72 standar kargo. Jumlah tersebut berasal dari Kilang Tangguh 103 kargo, Kilang Badak 192,97 kargo, dan Kilang Arun 22,75 kargo.

Pada 2012, alokasi LNG untuk domestik dari produksi adalah sebesar 14 kargo untuk memenuhi kebutuhan FSRU Jawa Barat. Kemudian, 8 kargo untuk Pupuk Iskandar Muda dan sisa produksi diekspor.

Turunnya produksi LNG tahun ini juga dikatakan oleh Presiden Direktur Badak NGL Nanang Untung. Tahun ini, pihaknya menurunkan target produksi LNG dari Kilang Badak.

Tahun lalu, produksi LNG dari Kilang Badak mencapai 204 standar kargo. Sementara, tahun ini diperkirakan hanya berkisar 170-174 standar kargo. Menurutnya, produksi tersebut turun karena produksi di hulu juga turun sehingga penurunan ini tidak dapat dihindari.

Salah satunya penurunan produksi gas Total E&P Indonesie di Blok Mahakam yang terus berlangsung. “Kan memang kalau reserve itu kan nonrenewable, kalau terus diambil kan lama-lama kempes. Mudah-mudahan ini natural declining, untuk lengkapnya tanya ke Total,” kata Nanang di sela-sela acara Indogas 2013 di JCC.

Seperti diketahui, tahun ini produksi Blok Mahakam tersebut dipatok hanya 1.500 – 1.600 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Padahal, produksi di Blok itu pernah mencapa 2.500 mmscfd. Sementara sebagian besar pasokan Kilang Badak masih berasal dari blok ini.

Selain dari Blok Mahakam, Kilang Badak juga mendapat pasokan dari Chevron Indonesia dan Virginia Oil Company (Vico). Untuk pasokan gas methana batubara (coal bed methane/CBM) dari Vico, hingga saat ini belum membuat perjanjian pengolahan gas (gas processing agreement) dengan pihaknya. Padahal, CBM milik Vico ini sudah mengalir ke kilang lebih dari setahun.

Kemudian, nantinya Kilang Badak juga akan mendapat tambahan pasokan gas dari Lapangan Jangkrik, Blok Muara Bakau milik ENI Muara Bakau B.V dan Indonesia Deepwateer Development (IDD) Chevron Indonesia Company. Nanang mengatakan, pihaknya sudah melakukan pembicaraan teknis dengan Chevron tinggal membahas masalah komersil saja. Pasokan dari Chevron akan masuk secara bertahap mulai 2015.

Tinggalkan komentar

Filed under Minyak & Gas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s