Pemerintah Akan Potong Belanja Untuk Genjot Lifting Gas

Pemerintah Akan Potong Belanja Untuk Genjot Lifting Gas

Rahma
Selasa, 22 Jan 2013 – 06:31:34 WIB

Satunegeri.com – Menteri Keuangan Agus DW Martowadojo menyampaikan, pemerintah pada skenario terburuk akan memotong anggaran belanja tahun 2013. Hal tersebut dilakukan jika usaha menggenjot produksi siap jual atau lifting gas dan pengendalian konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tak cukup mengompensasi anjloknya lifting minyak.

Demikian disampaikan menjawab pertanyaan Kompas di sela-sela kunjungan kerja bersama sejumlah menteri di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (21/1).

“Skenario terburuk apabila usaha sektoral tak mampu mengompensasi anjloknya lifting minyak, maka akan dilakukan pemotongan belanja negara,” kata Menkeu, di Jakarta, Senin (21/1)

Prinsipnya, kata Agus, pemotongan belanja didesain agar nilainya tak melampaui penerimaan negara sehingga defisit APBN 2013 tak sampai 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

“Secara normatif, belanja yang bisa dipotong adalah belanja barang dan belanja modal,” kata Agus. Padahal belanja modal adalah belanja untuk pembangunan infrastruktur yang memberikan efek ekonomi berantai. Jenis belanja lainnya bersifat rutin dan mengikat.

Sementara itu, Ekonom Sustainable Development Indonesia, Dradjad Hari Wibowo, berpendapat, usaha menggenjot lifting gas hanya berpeluang mengompensasi di sisi penerimaan negara. Ini dengan catatan realisasi harga maupun lifting gas memadai. Namun langkah ini tak akan menghindarkan tekanan pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran untuk menjadi defisit.

Alasannya, tidak semua lifting gas diekspor karena sebagian harus dialokasikan untuk industri maupun kebutuhan listrik domestik. Sementara impor minyak pasti menggelembung karena lifting-nya anjlok, sedangkan konsumsi BBM naik.

”Risiko terbesar bukan di penerimaan APBN, tetapi di neraca perdagangan dan neraca pembayaran. Sekarang pelaku pasar sudah bisa menghitung, kalau defisit neraca perdagangan tetap besar maka mereka akan mempermainkan rupiah. Kalau rupiah anjlok beban APBN akan meningkat,” kata Dradjad.

Pemotongan belanja anggaran sebagai skenario terburuk, menurut Dradjad, sifatnya parsial karena hanya berimplikasi menjaga defisit APBN. Antisipasi harus integral. Di neraca perdagangan, harus ada kompensasi peningkatan ekspor nonmigas. Di neraca pembayaran, harus ada kompensasi peningkatan modal masuk.

”Solusi paling ideal dari sisi ekonomi adalah menaikkan harga BBM baik secara langsung ataupun tidak langsung. Saya lebih suka menaikkan harga BBM tidak secara langsung melalui cukai BBM karena bisa didesain tertarget pada kelas menengah-kaya sehingga resistensi politiknya relatif rendah. Cuma masalahnya di tahun politik ini, siapa pemimpin politik yang berani melakukan kebijakan itu,” kata Dradjad

Menurut Kepala Satuan Kerja Khusus Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Rudi Rubiandini, pekan lalu, menyatakan, lifting minyak tahun 2013 cenderung 830.000 barrel per hari atau anjlok 70.000 barrel dari asumsi. Ini adalah yang terendah sejak level puncak era 1973-1976 dan 1986-1987 sebanyak 1,6 juta barrel per hari. Sejumlah usaha eksplorasi maupun eksploitasi paling cepat baru akan terasa sebagian kontribusinya mulai tahun 2014.

Persoalan bertambah dengan asumsi harga jual minyak Indonesia (ICP) yang cenderung meleset di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN) 2013. Dari asumsi harga ICP 100 dollar AS per barrel, realisasinya diperkirakan di atas harga itu.

Menurut Menkeu, semua kecenderungan itu, pasti berimplikasi pada APBN 2013 dan neraca pembayaran. Namun pertama-tama antisipasinya adalah ikhtiar maksimal dari sektor terkait untuk mengompensasi anjloknya lifting minyak. Di antaranya adalah menggenjot lifting gas. Target lifting gas tahun 2013 adalah 1.360.000 barrel setara minyak per hari.

”Kalau ada target dalam satu sektor, maka harus dicapai. Caranya adalah ikhtiar di sektor itu. Semua memang ada risiko ke fiskal. Tetapi kalau lifting minyak tak bisa dicapai harus dicari usaha yang lain dari peningkatan gas atau melakukan penghematan (konsumsi BBM bersubsidi),” kata Agus.

Tinggalkan komentar

23 Januari 2013 · 7:24 AM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s