Produksi Minyak Menurun BBM Mulai Darurat

Rahma
Sabtu, 19 Jan 2013 – 15:33:31 WIB

Satunegeri.com – produksi minyak sepanjang tahun 2013 diperkirakan akan makin turun, yakni  berkisar pada 830.000-850.000 barrel per hari. Kondisi ini salah satu faktor yang menjadikan persoalan bahan bakar minyak mulai masuk level darurat.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekonomi Pertambangan dan Energi (ReforMiner Institute) Priagung Rakhmanto, menyampaikan rendahnya tingkat produksi minyak nasional dinilai merupakan buah tata kelola hulu minyak dan gas bumi yang keliru.

“Tata kelola hulu migas yang keliru dan terus dipertahankan hingga kini,” kata Priagung, Jumat (18/1), di Jakarta.

Akibatnya, katanya, iklim investasi untuk kegiatan eksplorasi menjadi sangat tidak menarik.Sehingga,  hulu migas nasional sebenarnya bukan hanya dalam kondisi titik nadir, tetapi juga darurat.

Situasi mutakhir menunjukkan produksi minyak siap jual anjlok ke titik nadir dan harga minyak internasional bakal melonjak dari asumsi. Sementara konsumsi secara alami terus meroket. Ini butuh solusi segera.

Kementerian Keuangan dalam rapat kerja dengan DPR awal Januari juga memperkirakan harga jual minyak Indonesia atau ICP sulit bertahan di asumsi 100 dollar AS. Asumsi dilonggarkan sampai 109 dollar AS per barrel. Baru-baru ini, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Rudi Rubiandini menyatakan, produksi minyak siap jual atau lifting cenderung 830.000 barrel per hari atau anjlok 70.000 barrel dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Atma Jaya Jakarta Agustinus Prasetyantoko berpendapat, kombinasi ketiga variabel itu dipastikan menyebabkan subsidi BBM bengkak. Sementara penerimaan negara bakal berkurang. Konsekuensinya, defisit APBN 2013 akan melebar dari asumsi Rp 165 triliun atau 1,65 persen.

”Tidak ada pilihan lain untuk solusi jangka pendek kecuali menaikkan BBM bersubsidi. Paling lambat triwulan II karena selanjutnya komplikasi politik akan semakin rumit,” ujarnya.

Kenaikan harga BBM bersubsidi, menurut Prasetyantoko, berfungsi ganda. Pertama, itu mengurangi beban subsidi. Kedua, itu akan mengerem laju konsumsi BBM. Sementara pilihan program larangan penggunaan BBM bersubsidi pada kendaraan pribadi di luar sepeda motor serta angkutan umum dan barang tidak akan signifikan hasilnya. Akan banyak penyimpangan.

Sementara itu, Direktur Indef, Ahmad Erani Yustika  mengatakan, kecenderungan terkoreksinya asumsi yang berujung pada persoalan subsidi BBM tersebut hampir pasti menurunkan penerimaan negara dan membengkakkan subsidi. Dengan demikian, pemerintah semestinya mulai menyiapkan APBN Perubahan 2013 yang merevisi asumsi maupun postur anggaran.

Secara bersamaan, kata Erani, pemerintah harus secepatnya mengambil kebijakan jangka pendek. Anjloknya lifting minyak sampai 70.000 barrel dari asumsi serta ICP yang ia perkirakan bisa mencapai 110 dollar AS per barrel menuntut kebijakan jangka pendek secepatnya.

”Saya tidak mengatakan harus berujung pada kenaikan harga (BBM subsidi). Saya paham kenaikan harga sulit dilakukan pada tahun ini. Secara politik, berat bagi pemerintah. Jadi kalau tidak pada harga, harus ada alternatif lain secepatnya,” kata Erani.

Kebijakan di luar kenaikan harga yang paling signifikan dampaknya, menurut Erani, adalah larangan kendaraan pribadi menggunakan BBM bersubsidi secara nasional. Kendaraan pribadi yang dimaksud di luar sepeda motor serta angkutan umum dan barang. Nilai penghematannya sebagaimana pernah disampaikan Badan Kebijakan Fiskal bisa Rp 50 triliun.

Pada kesempatan yang berbeda, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Rudi Rubiandini, menyatakan, produksi minyak tahun 2013 diperkirakan hanya berkisar 830.000-850.000 barrel per hari. Oleh karena itu, asumsi produksi minyak mentah siap jual (lifting) dalam APBN 2013 yang ditetapkan 900.000 barrel per hari perlu direvisi.

Rudi menjelaskan, realisasi produksi minyak mentah siap jual tahun 2012 hanya 840.000 barrel per hari dari target produksi siap jual 960.000 barrel per hari. Jika laju penurunan produksi minyak secara alamiah bisa ditahan dan beberapa gangguan operasi seperti cuaca buruk dapat diatasi, realisasi produksi minyak tahun ini diperkirakan hanya mencapai 830.000-850.000 bph. Saat ini rata-rata produksi minyak 830.000-840.000 bph. ”Kami akan berupaya setidaknya mempertahankan produksi minyak,” ujarnya.

Tinggalkan komentar

Filed under Minyak & Gas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s