UNS Ciptakan Pengolah Air Limbah Batik

Rabu, 16 Januari 2013 | 09:43 WIB

Metrotvnews.com, Solo: Dosen UnS Solo sukses menciptakan alat pengolah limbah, khususnya limbah batik.

“Airnya silahkan dituang Pak,” pinta Budi Utomo kepada salah seorang rekannya sesama dosen di gedung riset fakultas teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Selasa (15/1).

Dengan cekatan, dosen yang diminta mengambil jerigen ukuran 25 liter yang berada di dekatnya. Ia menuangkan isinya sampai habis ke dalam sebuah bak besi berwarna biru yang disangga sebuah konstruksi besi.

Sekilas bentuknya mirip sebuah gerobak yang biasa digunakan pedagang es atau makanan. Lengkap dengan dua roda dan dua tangkai sebagai pengendali.

Selain bak biru tadi, di atas konstruksi itu juga terdapat dua kotak lain berwarna krem. Satu berukuran sedang dan satu lagi berukuran kecil.

Kotak berukuran sedang yang ditaruh melekat dengan tangkai  berisi rangkaian elektronik yang berfungsi sebagai adaptor.

Sedangkan kotak kecil dengan tiga buah lampu kecil yang ditaruh di atasnya berfungsi sebagai indikator waktu. Bak biru dan dua kotak tersebut dihubungkan oleh beberapa lembar kabel.

Usai menuangkan isi jerigen pertama, dosen tadi mengambil lagi jerigen yang lain untuk dituangkan isinya. Total, ada 10 jerigen semuanya.  Dari bau tidak sedap yang disebarkannya, jelas air itu bukan air bersih.

“Air itu merupakan limbah dari proses pembuatan batik yang kami ambil dari beberapa tempat,” jelas Budi Utomo yang ternyata merupakan Ketua Tim Unit Pengolah Limbah Reaktor Elektrokimia (UPAL-RE) itu.

Konstruksi mirip gerobak tadi merupakan prototype UPAL-RE hasil riset mereka. Meski wujudnya sederhana, proses penciptaan perangkat itu memakan waktu yang cukup panjang. Budi dan rekan-rekannya telah mulai fokus menggarapnya sejak 2009.

Walau memakan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit, Budi mengaku cukup puas dengan hasilnya.  Tim yang ia pimpin akhirnya mampu menciptakan alat pengolah limbah batik mobile dengan efisiensi tinggi. Khususnya dari cemaran zat sisa proses pewarnaan.

“Untuk air limbah dari proses pewarnaan sintetis efisiennya mencapai 75%, sedangkan yang untuk pewarna alam sampai 85%. Sementara untuk COD (Chemical Oxygen Demand) kami bisa lebih tinggi lagi, bisa sampai 85% untuk pewarna sintetis dan 90% untuk pewarna alam,” katanya. (Ferdinand/OL-10)

Tinggalkan komentar

Filed under Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s