Ibu | Hikayat sebuah nama

10402968_595362970603745_1938078979950154517_n

Akan kuceritakan kepadamu hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa. Dialah perempuan yang pertama kali mengajarkan kita kata-kata, bahasa, nada, dan apa saja yang membuat kita bahagia. Dialah perempuan yang pertama kali mengajarimu memakai sepatu atau memotong kuku.

Dialah perempuan yang suatu hari akan melihat kita melangkah pergi, dengan sepatu yang lain, meninggalkannya sendiri: menangis pilu bersama denyit engsel pintu.

Dialah ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang mernagkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahului-Nya: sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Dimanakah dia sekarang? Apa kabar dia sekarang? Bagaimana perasaannya?

Jika pertanyan-pertanyaan itu tak pernah kau tanyakan untuknya. Baginya pertanyaan-pertanyaan itu selalu ada untukmu.

Di pasar, di dapur, di kantor, di jalan, di terminal, di tempat suci, di manapun… baginya, segala tentangmu adalah doa: Tuhan, semoga anaku baik-baik saja!

Seburuk apapun kau memperlakukannya. Ibu akan tetap bangun pagi untuk sembahyang: mendoakan segala yang terbaik untukmu.

Dialah ibumu. Perempuan yang selalu menatap kepergian kita dengan cemas. Menunggu semua kepulangan kita dengan perasaan yang was-was. Dialah perempuan yang barangkali melupakan sakitnya sendiri untuk merawat sakit kita yang selalu terlalu manja.

Dialah ibumu, perempuan suci yang telah dan akan selalu menyayangimu seperti laut melindungi terumbu. Meskipun kadang kau merasa tak bersamanya , cintanya selalu mengalir di seluruh jalan darahmu. Hingga habis usiamu.

Ya, inilah hikayat sebuah nama, tempat segala cinta bermula dan bermuara. Tuhan begitu menyayangi setiap Ibu, sehingga jika kita mendapatkan restunya, Tuhan berjanji merestuimu: Lapanglah segala jalan kebaikanmu, terbukalah semua pintu surga untukmu.

Tetapi apabila Ibumu menangis karenamu dan kesedihan menetes sampai ke hatinya, sebagian malaikat akan mendoakan butiran-butiran air matanya, hingga menjadi kristal cahaya yang akan membuat sebagian malaikat lainnya merasa silau dan marah kepadamu!

Maka tersebab kemarahan malaikat adalah kemarahan yang suci: Tuhan tak melarang mereka tatkala menutup segala pintu kebaikan untukmu, menggugurkan semua pahala untuk menutup pintu-pintu surga untukmu-hingga Ibu memaafkanmu.

Kenanglah, Ibu selalu mencintai kita seolah tak ada hari esok, sementara kita terus berjanji akan membahagiakannya besok atau nanti, jika sudah selesai dengan diri kita sendiri. Tapi kapankah akan terjadi?

Entahlah, tidak ada yang tahu. Sementara Ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana, Kita? Entahlah. Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.

Demikianlah hikayat sebuah nama, yang tak asing tetapi mulai sering lupa kita sapa: IBU. Perempuan yang pertama kali mengajarkan kita dua kata sederhana, “terima kasih” dan “maaf”, untuk tak pernah kita ungkapkan dua kata sederhana itu kepadanya.

Barangkali ibu kita memang bukan ibu terbaik di dunia, sebab kita juga bukan anak terbaik di dunia.

Akankah tiba saatnya kita mengenangnya hanya sebatas nama, sambil mengumpulakn satu per satu helai-helai rambutnya yang rontokdan keperakan-dari baju hangat peninggalannya? Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat, sementara sesal tak akan sanggup mengembalikan lagi semuanya-lembut matanya?

Semoga kita belum terlambat!

REVOLVERE PROJECT | Apologia Untuk Sebuah Nama
Fahd Pahdepie

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan

Islam itu Islam

path_on_mountain-wallpaper-1024x1024

Islam itu Islam. Islam tetap Islam, tak pernah bergeser sedikit pun dari kebenarannya. Silahkan orang di seluruh muka bumi membenci, mencurigai, atau bahkan meninggalkan Islam. Pengaruhilah dunia sehingga tidak seorang pun memeluk Islam. Hasilnya, Islam, ya tetap Islam. Islam tidak akan berubah seinci pun karena disalahpahami. Islam tidak menjadi lebih tinggi karena dicintai, dan tak menjadi lebih rendah karena dibenci. Silahkan orang curigation terus kepada Islam, silahkan menyelewengkan, silahkan memfitnah, silahkan memanipulasi: pada dirinya sendiri, Islam tidak mungkin berubah.

La raiba fih, tak ada keraguan padanya. Kalau orang ragu, itu urusan dialah. Islam tak merugi. Islam bebas dari untung-rugi. Manusia sajalah yang terikat untung-rugi. Manusia sudah tiba pada abad ke-20 yang maha cerdas. Mereka menentukan untung-ruginya sendiri tanpa bisa menentukan nasib Islam. Islam tak pernah tertawa karena dinikahi dan tak pernah menangis karena dicerai. Islam tak punya kepentingan terhadap manusia, manusialah yang berkpentingan terhadapnya. Emha Ainun Nadjib

Tinggalkan komentar

Filed under Kutipan

Kasihan Pencitraan

papers.co-ak62-space-girl-star-art-illust-face-dark-9-wallpaper

Kata citra memang tidak perlu dikasihani. Namun beda halnya dengan kata pencitraan yang justru perlu bahkan mesti dikasihani. Betapa tidak, saat ini masyarakat (tidak semuanya namun cukup banyak) yang memberikan arti negatif akan kata pencitraan. Mereka berkata,”Ah paling pencitraan”.

Sebentar, mari kita hening sejenak. Bukankah kita sebagai manusia, sebagai anak dari orang tua ataupun sebaliknya, sebagai umat beragama, sebagai sebagai kaum muda ataupun tua, sebagai etnis budaya, dan sebagai masyarakat Indonesia. Kita dianjurkan untuk hidup, berpikir, bertutur, dan berprilaku baik hingga kita memiliki citra yang baik. Bukankah ini termasuk ke dalam kategori pencitraan? Mereka berkata lagi,”Ah tapi….”

Tapi apa lagi? | Pencitraan itu kan tidak baik? | Hah, yang benar saja?

Pencitraan adalah pencitraan. Pencitraan akan menjadi baik ataupun tidak baik tergantung dari manusia yang menggunakannya. Pencitraan bukan merupakan sebuah subjek atau pelaku yang bisa dituduh ini dan itu apalagi dijelek-jelekan. Pencitraan adalah cara yang bisa digunakan siapa saja. Pencitraan hanyalah sebuah proses yang kita gunakan dalam membuat citra. Itu saja tak ada yang lainnya.

Membuat citra dengan membuat-buat citra adalah hal yang jauh berbeda. Jadi, ketika ada manusia yang menggunakan pencitraan dengan tujuan membuat-buat citra. Maka jangan salahkan pencitraan tapi tanyakan saja pada manusia yang menggunakannya. Kenapa berbuat demikian? Bukankah kasihan pencitraan jika dijatuhi tudahan atas apa yang tidak dilakukan?

Semoga kita menjadi pribadi yang selalu berbaik sangka hingga memiliki citra yang baik di hadapan-Nya. Semoga saja.

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan

Melupakan-Nya ?

11296833_360329660838815_978695184_n

Kita adalah manusia. Dan setiap dari kita bisa dipastikan memiliki kemauan akan sesuatu, apapun itu. Sebuah rasa, asa akan apa-apa yang ada di dunia. Namun kita akan meminta kepada-Nya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang meminta hanya dengan usaha | usaha dan doa | doa, usaha, dan doa? Apa bedanya?

Ini jelas berbeda. Doa, usaha, dan doa tidak sama bahkan sekalipun tidak sama dengan usaha dan doa apalagi hanya dengan usaha. Karna doa, usaha, dan doa melibatkan Tuhan mulai dari awal hingga akhir dari sebuah usaha. Berbeda sekali dengan usaha dan doa yang hanya melibatkan Tuhan diakhir sebuah usaha. Apalagi hanya usaha yang seakan melupakan keterlibatan Tuhan.

Seperti yang dikatakan Dik Doank bahwa doa sebaiknya ada disepanjang usaha kita. Mulai dari awal, tengah, hingga akhir begitulah seharusnya. Dan doa jangan hanya ada diawal, tengah, atau bahkan diakhir saja karna ini tidak lengkap. Seperti ada waktu dimana kita lupa akan keberadaan Tuhan yang jelas-jelas selalu ada.

Mungkin hal ini juga yang membedakan kita dengan para alim ulama. Kita hanya mengingat Tuhan pada saat tertentu saja sedangkan para alim ulama mengingat-Nya disetiap hembusan napasnya. Oleh karenanya kita sebaiknya senantiasa berdoa agar tidak lupa keberadaan-Nya. Bahkan jika perlu kita berdoa agar tidak menjadi manusia yang melupakan-Nya.

Foto: Chris Burkard

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan

Like

heart_bokeh-wallpaper-1024x1024Pernahkah kita merasa gengsi ketika ingin memberikan like atau suka dalam ranah sosial media? Jika pernah, kenapa? Kenapa kita harus merasa gengsi dalam memberikan like atau suka kepada pengguna sosial media lainnya? Apakah ini akan menurunkan rating kita di hadapan orang yang kita berikan like terhadapnya? Apakah sebegitu takutnya kita?

Lalu bagaimana ketika sesuatu yang kita baca, lihat, ataupun dengar memiliki nilai inspirasi? Minimal sesuatu itu menginspirasi diri kita sendiri. Sebuah inspirasi yang menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Entah itu dalam hal pemikiran, ucapan, tindakan, ataupun hal lainnya dalam hidup kita.

Jika sesuatu itu memiliki nilai kebaikan maka jangan pernah ragu untuk memberikannya like atau suka. Bahkan saya sendiri kadang meluangkan waktu untuk sengaja memberikan like kepada akun teman-teman yang dirasa memiliki nilai kebaikan apalagi menginspirasi. Semoga saja like yang kita berikan bisa memotivasinya dalam menyebarkan inspirasi-inspirasi lainnya. Bukankah hal seperti ini menyenangkan? Ketika kita bisa berkontribusi dalam menyebarkan nilai kebaikan.

Like adalah cara yang mudah, murah, dan efektif dalam mendorong sebuah inspirasi. Mendukung dalam hal kebaikan. Jadi kita tak perlu ragu lagi dalam memberi like. Selama sesuatu itu memiliki nilai kebaikan, minimal untuk diri kita sendiri. Mari “like” itu kita bagi dengan senang hati. Semoga hal kecil seperti ini menjadi inpirasi bagi kita dalam berbagi di kehidupan nyata. Semoga, itu saja dari saya.

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan

Rindu

006

Katanya [entah siapa], rindu menggebu kala tak bertemu. Dan jumpa adalah obatnya. bagaimana dengan Anda? Jawab dalam hati saja.

Rindu mengajarkan kita untuk belajar menunggu. Belajar untuk menjadi seseorang yang sabar. Rindu pula yang mengajarkan kita untuk berdoa ketika gundah melanda.

Namun menunggu menuntut sebuah syarat mutlak yaitu waktu. Sedangkan setiap dari kita memiliki batasnya. Maukah kita merelakan waktu untuk menunggu? Jika iya berarti kita sedang rindu. Karna rindu hanya diperuntukkan bagi mereka yang sabar dalam menunggu.

Dan aku sedang menunggu. Kalau kamu ?

2 Komentar

Filed under Catatan

Nikmat

food-art223

Pernahkah Anda makan dan tidak menikmatinya ? Mari kita bicarakan hal ini melalui kata-kata.

Makan merupakan kebutuhan premier sebagai makhluk hidup termasuk kita, manusia. Artinya kita harus makan agar bisa hidup dan menjalani hidup. Begitulah ketentuan yang kita dapat sebagai makhluk hidup.

Setiap dari kita pasti memiliki kemampuan untuk makan bahkan sejak dilahirkan. Sebuah kemampuan yang Tuhan berikan atas konsekuensi dari sebuah penciptaan kita sebagai makhluk yang membutuhkan makan. Namun tidak setiap dari kita memiliki kemampuan untuk menikmati apa-apa yang kita makan. Kenapa ?

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab kita sulit dalam menikmati makanan. Berikut beberapa hal diantaranya:

1. Kenyang bukannya lapar
Kita makan dalam keadaan kenyang bukan pada saat dalam keadaan lapar. Alhasil yang kita dapat justru kekenyangan. Sekalipun makanan yang kita makan itu harganya mahal dan secara resep sudah sempurna, kita akan tetap sulit untuk menikmatinya.

2. Berlebihan bukannya secukupnya
Sesuatu yang berlebihan memang kurang baik terkecuali dalam hal beribadah. Makan dengan porsi berlebihan bisa mengurangi bahkan menghilangkan kenikmatan sebuah makanan. Dan justru yang ada hanyalah rasa mual karna berlebihan.

3. Protes bukannya bersyukur
Inilah poin utama yang ingin saya sampaikan. Ketika kita lupa akan rasa syukur atas nikmat-Nya maka saat itu pula kita kehilangan nikmat. Termasuk nikmatnya sebuah makanan karna yang akan muncul hanyalah protes-protes yang tidak ada habisnya. Sekalipun makanan itu enak kita akan tetap memprotesnya dengan alasan ini dan itu.

Jadi, saran saya agar kita bisa menikmati apa-apa yang kita makan. Sebaiknya kita makan dalam keadaan lapar, porsi secukupnya, dan rasa syukur atas nikmat-Nya hingga semuanya terasa nikmat. Syukur adalah bumbu terbaik untuk segalanya termasuk untuk sebuah makanan. Itu saja dari saya.

Foto: sickoftheradio.com

Tinggalkan komentar

Filed under Catatan